Cerbung: Candrasengkala (Bag. 7-Tamat)
“Hm? Siapa?” Matanya masih terpejam ketika menjawab sebuah telepon dari nomor yang tidak dikenal.
“Put, sudah bangun? Ayo ikut aku naik ke Puncak Kelud, mumpung cerah.” Suara Aksa pelan terdengar dari balik telepon. Meski begitu, suara itu mampu membuat Putri Sanggramawijaya seketika terbangun dan melompat dari tempat tidur. Hal itu membuat telepon genggamnya terjatuh di kolong meja dekat tempat tidurnya.
Baru saja Putri mendapatkan kembali telepon genggamnya, terdengar suara ketukan di pintu yang disusul kemudian suara Aksa dari sana.
“Put, aku tunggu di luar ya.”, ucap Aksa tanpa menunggu jawaban Putri.
Putri Sanggramawijaya merasa heran. Kemana Si Mbok dan Romo, juga kakek tua? Apakah yang ada di hadapannya ini nyata? Bagaimana mungkin ia kembali ke dunianya, padahal masih tersisa satu tantangan lagi.
“Oh ya, Aksa menungguku di luar. Aku harus bergegas.” Putri harus segera bersiap-siap meskipun keraguan masih meliputi dunia yang saat ini sedang ditatapnya. Terpaksa dia harus meninggalkan sejenak pikirannya karena Aksa sudah menunggu di luar.
Segera ia bersiap-siap dan berganti pakaian, kemudian tak lupa mengenakan topi dan sebuah kain sebagai penutup muka. “Ayo, kita berangkat.”
Pemandangan pagi Kelud memang tak pernah mengecewakan. Deretan bukit-bukit kecil menghampar di sepanjang lereng. Dari puncaknya, terlihat sebuah kaldera bekas letusan Gunung Kelud beberapa tahun silam. Letusan itu menyisakan sebuah danau di tengah kawah yang kadang berwarna biru, kadang hijau, pun kadang kecoklatan.
“Put, kamu mau tinggal disini selamanya?”, tanya Aksa.
“Tentu tidak. Aku akan kembali kalau luka ku telah sembuh.”
Aksa mengernyitkan dahi mendengar jawaban Putri. “Maksudmu luka disini, atau disini?” Tanya Aksa sembari menunjuk muka dan dada sebelah kiri.
“Kau mau mengejekku ya?”, jawab Putri sambil tersenyum getir.
Aksa tau dari Nimas bahwa Putri pergi dari rumah sekitar tiga minggu yang lalu karena suatu masalah. Lelaki yang dicintainya tidak jadi melamar setelah melihat mukanya yang dipenuhi luka bekas cacar air. Totol-totol kehitaman bekas luka kini memenuhi wajahnya yang dahulu bersih berseri bak kanvas baru.
“Siapa pula yang mengejekmu. Kamu masih cantik, kok. Coba saja buka penutup wajahmu itu.” pinta Aksa kepada Putri.
Putri ragu-ragu hampir menuruti permintaan Aksa untuk membuka penutup wajahnya, tapi segera ia urungkan kembali. “Nggak, ah. Nanti semua orang akan takut padaku. Aku tidak cantik lagi, dan aku nggak mau orang-orang melihatku begini.”
“Semua orang? Kamu salah. Justru yang takut melihat wajahmu itu ya kamu sendiri.” Jawaban Aksa barusan berhasil membuat suasana hening beberapa saat.
“Ya udah yuk, kita balik. Aku capek.” Putri berbalik arah duluan, hendak meninggalkan Aksa sendirian. Aksa pun mengejar Putri tanpa bertanya atau berkata apapun.
Sesampainya di penginapan, terlihat Nimas sudah menunggu mereka di depan kamar.
“Mbak Putri, gawat mbak.”, ucap Nimas dengan nada cemas dan tergesa-gesa.
“Ada apa? Apanya yang gawat?”, tanya Putri ikut cemas setelah melihat ekspresi wajah Nimas.
“Mbak Putri diminta merias keponakan Pak Camat besok siang. Dia mau nikah.”, begitu Nimas menyampaikan kabar tak terduga.
“Kenapa tiba-tiba begini?”, dengan penasaran Putri bertanya. Padahal pernikahan itu adalah suatu hal yang sakral, tapi mengapa malah membuat acara yang mendadak.
“Menurut kabar yang beredar sih, si perempuan keponakan Pak Camat itu sudah isi duluan.”, bisik Nimas kepada Putri.
Dengan wajah polos Putri bertanya, “Maksudnya isi itu bagaimana?”
Nimas kemudian menunjuk perut, kemudian mempraktekkan gerakan melengkung setengah lingkaran yang berarti “isi bayi” alias hamil.
Sehari-harinya, Putri Sanggramawijaya memang seorang perias pengantin dan pemilik sebuah salon di pusat kota.
“Tapi aku tidak membawa perlengkapan rias lengkap loh. Gimana? Mau seadanya saja?”
Nimas menjawab dengan anggukan yang tegas. “Ya engga apa-apa, daripada nggak dandan sama sekali.”
Setelah tuntas menyampaikan maksud kedatangannya, Nimas pamit hendak pulang lalu mampir ke rumah Pak Camat untuk menyampaikan kabar tentang kesedian Putri merias keponakannya. Sedang Aksa masih disana, mendengarkan dengan seksama percakapan Nimas dan Putri dari tadi.
“Sebenarnya ada yang ingin ku tanyakan padamu Aksa, tapi karena aku ingin tidur, ku tanyakan saja besok setelah merias keponakan Pak Camat. Sekarang pulanglah.”
Aksa hendak bertanya apa yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh Putri, akan tetapi melihat wajah Putri yang loyo membuatnya menyimpan pertanyaan itu sendiri.
Keesokan harinya, Putri berangkat menuju rumah Pak Camat ditemani oleh Nimas. Mereka berboncengan sepeda motor melewati jalanan desa yang cukup sempit dan terjal.
Sesampainya di depan rumah Pak Camat, Putri melihat sebuah kendaraan yang terasa tidak asing, terparkir di teras samping rumah itu.
Ia dekati kendaraan tersebut, kemudian ia mundur hendak kembali ke penginapan. “Aku pulang saja.”
“Loh, kenapa mbak? Kita sudah sampai lo, tinggal masuk saja.” Ajak Nimas sembari menggandeng tangan Putri masuk ke dalam rumah lewat pintu samping menuju kamar calon pengantin wanita.
Seorang laki-laki dengan setelan kemeja putih dan jas hitam masuk ke dalam kamar sesaat sebelum Putri mulai merias calon pengantin. Kuas riasnya terjatuh, tepat ketika laki-laki itu menolehkan wajah menghadap pengantin wanita. Kakinya gemetar, matanya memerah menyaksikan laki-laki itu menepuk pundak pengantin wanita sambil mengucapkan, “Aku yakin kamu pasti akan terlihat sangat cantik sekali.” Pengantin wanita itu pun tersenyum dengan senyum termanis yang ia punya.
Sejenak Putri berdiri mematung, kemudian segera menghambur keluar setelah laki-laki itu keluar dari dalam ruangan.
“Sial, ternyata laki-laki keparat itu tidak jadi melamarku karena punya wanita lain.”
Putri masih menangis sesenggukan ketika Nimas menemukannya jongkok di samping sepeda motor mereka.
“Mbak Putri kenapa?”, Nimas merangkul Putri dengan cemas.
Putri mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan sebuah gambar yang terpasang sebagai foto beranda ponsel tersebut. Sebuah foto dengan latar langit biru yang indah. Terdapat seorang perempuan dan laki-laki yang berdiri disana sedang bergandengan tangan sambil tersenyum. Perempuan itu adalah Putri, sedang laki-laki dalam gambar itu adalah laki-laki yang sama dengan laki-laki berjas hitam di ruangan tadi.
Nimas mengerti apa yang terjadi. Ia lalu memeluk erat Putri, kemudian berkata “Kalau mbak mau pulang, kita pulang sekarang. Ayo, Mbak.”
Putri kemudian berdiri dari jongkok mengikuti tarikan tangan Nimas.
“Enggak, Nimas. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku.” Putri pun memutuskan kembali ke ruangan rias itu. Ia betulkan rambut dan letak penutup wajahnya sebelum memasuki ruangan. Dengan penampilannya yang sekarang, ia yakin laki-laki itu tak mungkin akan mengenalinya.
Tak butuh waktu lama, Putri Sanggramawijaya mulai bekerja merias pengantin wanita. Tangannya yang terampil, berhasil membuat penampilan keponakan Pak Camat terlihat cantik dan berseri meskipun ia kesusahan menahan beban karena keadaannya yang sedang mengandung lima bulan.
Saat akad akan berlangsung, semua orang terpana melihat penampilan pengantin. Termasuk Putri Sanggramawijaya. Sayangnya, ia terpana bukan karena penampilan pengantin wanita yang diriasnya, melainkan ia terpana oleh sosok laki-laki keji yang berdiri di samping pengantin wanita tersebut.
Putri dan Nimas pun segera meninggalkan acara setelah pekerjaannya selesai. Mereka kembali ke penginapan. Putri berpesan kepada Nimas untuk tidak menceritakan hal ini kepada siapapun sebelum mereka berpisah. Ia lalu menenggelamkan diri ke dalam kamar, berusaha menerima dan merelakan apapun yang terjadi. Ia masih kalut dan terisak, sampai tak sadar ia tertidur.
Sesosok tua terlihat mendatanginya di dalam mimpi.
“Selamat, Putri. Kau telah berhasil melewati tantangan ketiga, yaitu penjara ego. Kau mampu bersikap tegar dan dewasa; serta mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentinganmu sendiri. Dengan ini, aku yakin kau bisa hidup di duniamu yang sekarang.”
Sosok tua itu pun menghilang bersama dengan hadirnya suara ketukan di pintu.
“Put, sudah bangun? Ini aku, Aksa. Aku mau ambil buku Candrasengkala.”
Komentar
Posting Komentar