Postingan

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 7-Tamat)

  “Hm? Siapa?” Matanya masih terpejam ketika menjawab sebuah telepon dari nomor yang tidak dikenal. “Put, sudah bangun? Ayo ikut aku naik ke Puncak Kelud, mumpung cerah.” Suara Aksa pelan terdengar dari balik telepon. Meski begitu, suara itu mampu membuat Putri Sanggramawijaya seketika terbangun dan melompat dari tempat tidur. Hal itu membuat telepon genggamnya terjatuh di kolong meja dekat tempat tidurnya. Baru saja Putri mendapatkan kembali telepon genggamnya, terdengar suara ketukan di pintu yang disusul kemudian suara Aksa dari sana. “Put, aku tunggu di luar ya.”, ucap Aksa tanpa menunggu jawaban Putri. Putri Sanggramawijaya merasa heran. Kemana Si Mbok dan Romo, juga kakek tua? Apakah yang ada di hadapannya ini nyata? Bagaimana mungkin ia kembali ke dunianya, padahal masih tersisa satu tantangan lagi. “Oh ya, Aksa menungguku di luar. Aku harus bergegas.” Putri harus segera bersiap-siap meskipun keraguan masih meliputi dunia yang saat ini sedang ditatapnya. Terpaksa d...

Cerbung: Cangdrasengkala (Bag. 6)

Gambar
Padepokan Romo Ronggohadinegoro terletak di sebuah dataran seluas kurang lebih lima hektar. Keberadaannya yang dekat dengan pusat pengetahuan kota dan pasar besar, membuat padepokan itu mampu berdiri mandiri tanpa mengandalkan barang dari luar. Segala keperluan baik keperluan sehari-hari maupun keperluan yang terkait dengan sekolah, mudah diperoleh dari dua ikon tersebut. Apalagi kebanyakan pedagang disana merupakan murid padepokan yang telah lulus terlebih dahulu. Setelah seminggu di sana, Putri Sanggramawijaya Tunggadewi diajak jalan-jalan ke sekitar Desa Kalasan. Sungai yang jernih, sawah dengan padi yang menguning, dan buah kelapa yang ranum menggantung; menambah asri suasana pagi itu. Di seberang sungai, tepatnya di sebelah selatan deretan persawahan, terdapat pemukiman warga lokal yang kesehariannya bertani dan berkebun. Terkadang mereka juga mencari ikan di sungai. Dari rumah-rumah itu, terlihat sebuah rumah yang ukurannya jauh lebih besar daripada rumah lainnya. Halamannya ...

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 5)

Gambar
  Sejak dua hari ini para abdi dalem sibuk mengurus persiapan keberangkatan Ndoro Putri Sanggramawijaya Tunggadewi menuju Padepokan Romo Ronggohadinegoro untuk menimba ilmu. Padepokan itu berada di arah selatan Gunung Kelud, tepatnya di desa Kalasan. Desa ini merupakan daerah yang cukup subur dan ramai meskipun jauh dari pusat kerajaan. Untuk menuju ke sana, diperlukan waktu kurang lebih seperempat hari menggunakan kereta kuda dengan jalanan yang cenderung menurun. Setelah semua persiapan selesai, Sanggramawijaya Tunggadewi memutuskan untuk segera berangkat menuju padepokan dan meninggalkan istana. Nampak wajah Paduka Raja yang sedikit gelisah melepas kepergian putri semata wayangnya tersebut. “Ayah tak usah khawatir, jalan menuju padepokan cenderung aman. Selain itu, Paman Senopati juga telah mengirimkan pengawal terbaik untuk menjagaku selama di perjalanan.”, ucap Putri Mahkota berusaha menenangkan ayahnya. Paduka Raja pun melepas keberangkatan Putri Mahkota dengan sebuah p...

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 4)

Gambar
Singalodra, Sang Penguasa Hutan Lodaya pergi mengembara ke barat ditemani oleh adiknya, Jakalodra. Mereka menyusuri hutan sampai ke bagian terdalam untuk mencari pusaka yang mampu menghancurkan sebuah gunung, sesuai permintaan gadis pujaan hatinya; Sanggramawijaya Tunggadewi. Menurut beberapa desas-desus yang beredar di kalangan Desa Sesepuh, ada sebuah pusaka bernama Pecut Samandiman yang mampu membelah gunung. Berdasarkan cerita, Pecut Samandiman tersimpan di sebuah gua yang letaknya jauh di dalam hutan Kadipaten Blitar.   Setelah menyusuri beberapa hutan yang berbeda, dibantu juga oleh informan dari para pengikutnya, akhirnya Singalodra dan adiknya dapat menemukan keberadaan gua yang diduga menjadi tempat bersemayam Pecut Samandiman. Dari luar penampakan gua itu seperti gua biasa, hanya berupa batu-batuan gua dan beberapa batu besar sisa letusan Gunung Kelud beberapa tahun silam. Namun, begitu masuk ke dalam, Singalodra dan Jakalodra terheran-heran menyaksikan keindahan pe...

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 3)

Gambar
  “Pikirkan dengan hati-hati perkara ini. Aku menunggu kabar baik darimu tiga hari ke depan”, kata Raja kepada Sanggramawijaya Tunggadewi. Wanita itu masih di sana, mematung. Antara sadar dan tidak sadar memikirkan mengapa mimpinya kemarin malam masih berlanjut. Seakan kejadian ini nyata dan tersambung dengan mimpi sebelumnya. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan buku bersampul coklat milik Aksa yang tanpa sadar telah dibukanya? Ah ya, Aksa. Dia menyesal mengapa tidak memberitahukan kepada Aksa hal yang sebenarnya terjadi pada saat buku itu diambil tadi siang; tentang Candrasengkala yang terlanjur ia buka dan baca sebagian. Melihat Sanggamawijaya terdiam di tengah ruangan, Si Mbok menghampiri Sanggramawijaya lalu menanyai apakah ia baik-baik saja. Tak lama   kemudian Sanggamawijaya tersadar dari lamunannya dan keluar Pendopo Utama diikuti oleh Si Mbok. Ia berniat kabur dari tempat ini, tapi sialnya dia bahkan tidak punya cukup pengetahuan tentang dunia ini. Keragu-raguann...