Perbedaan Budaya Makan Masyarakat Banjar dan Masyarakat Jawa
Halo, Sobat Dika!
Pernahkah kalian keluar kota dan menemukan budaya yang berbeda terutama tentang makanannya? Atau merasakan culture shock akibat budaya makan yang berkebalikan dengan biasanya?
Kali ini, Dika akan membagikan pengalaman tentang perbedaan terkait budaya makanan yang ada di tempat lahir Dika di Jawa Timur dan satu daerah di Kalimantan Selatan.
1. Nasi
Sekilas tidak terlihat perbedaan dari nasi yang ada di Kalsel dan di Jatim. Warnanya sama-sama putih dengan bulir yang sebagaimana ukurannya. Hal pertama yang membuat Dika kaget adalah tentang teksturnya. Nasi Banjar, sebutan untuk nasi dari daerah Kalimantan Selatan khususnya suku Banjar, memiliki tekstur yang jauh berbeda dibandingkan Nasi Jawa.
Nasi Banjar lebih keras, sedangkan Nasi Jawa lebih lembek dan empuk. Bagi Dika, Nasi Banjar harus dimakan dengan kuah yang banyak. Berbeda dengan Nasi Jawa yang cenderung lebih lembek dan empuk yang tetap enak dimakan dengan lauk tanpa kuah.
Satu lagi, Dika pernah coba memasak beras Banjar dengan air yang melimpah ruah. Tepat setelah matang, nasi Banjar lumayan lunak seperti nasi Jawa. Akan tetapi, beberapa waktu kemudian nasi Banjar menjadi keras apalagi kalau sudah dingin. Ya macam hubungan lah, kalau dibiarin lama-lama sikapnya jadi dingin dan keras. Ups.
2. Menu Sarapan: Sate & Nasi Kuning
Sate adalah salah satu makanan yang terkenal di Indonesia. Ada banyak varian sate sesuai daerahnya masing-masing. Tidak mengherankan jika rasa sate di Banjar dan di kotaku berbeda, kecuali tentang waktu memakannya.
Di kotaku Blitar, sate merupakan makanan yang biasa dikonsumsi sore hingga malam hari. Meskipun banyak juga tempat makan yang menjadikannya sebagai menu makan siang. Namun, di daerahku tidak biasa ku temui sate sebagai menu sarapan.
Sebaliknya, masyarakat Banjar biasa menjadikan sate sebagai menu sarapan. Sate banyak dijual di pagi hari hingga siang atau sore hari.
Begitupun dengan nasi kuning, atau lebih tepatnya nasi kuning bungkus. Keberadaannya menjamur di warung-warung kaki lima dan sepanjang jalan. Umumnya disajikan dengan lauk berupa telur, daging, maupun ikan dalam bungkus daun pisang atau kertas.
Bisa dikatakan, keberadaan nasi kuning di Banjar, sama halnya keberadaan nasi pecel di daerahku: tiap pagi selalu ramai dicari.
3. Ketupat Kandangan
Ketupat Kandangan merupakan menu makanan khas daerah Kandangan, Kalimantan Selatan. Terdiri dari ikan atau telur yang dimasak dalam kuah santan kental yang telah dibumbui. Menu ini disajikan bersama dengan ketupat yang telah dibungkus daun pisang maupun daun kelapa. Bentuk ketupat yang pernah Dika temui dalam Ketupat Kandangan adalah segitiga, berbeda dengan bentuk ketupat biasanya.
Menu ini umumnya merupakan menu sarapan masyarakat Banjar selain nasi kuning. Ada dua hal unik yang Dika temui terkait Ketupat Kandangan. Pertama kali Dika mencoba menu ini, rasanya enak dan sangat gurih. Tentu saja salah satunya karena penggunaan santan yang sangat kental dan melimpah. Karena hal itulah, meskipun rasanya enak, Dika pikir menu ini lebih cocok dijadikan sebagai menu siang dibandingkan menu sarapan.
Selain itu, masyarakat asli lebih suka memakan makanan ini menggunakan tangan dibandingkan sendok. Memakan ketupat bersama sepotong ikan dalam kuah yang melimpah menggunakan tangan, merupakan hal baru dan unik bagi Dika.
Nah, itulah sebagian pengalaman Dika tentang perbedaan budaya makan di kota yang pernah Dika kunjungi. Kalau Sobat Dika mempunyai pengalaman serupa, boleh share di kolom komentar ya.
Wah jadi pengen nyobain
BalasHapusSaya juga kangen pengen nyobain lagi. Hehehe
HapusWah menarik banget. Sayang cuma bisa lihat kata-katanya, nggak bisa dirasain pake lidah. Hehehe
BalasHapusSemoga ada kesempatan nyobain langsung ya.. Hehe
Hapus