Menghindari Kesalahan Tentang Kebenaran

Apa arti kebenaran?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebenaran memiliki arti keadaan (hal dan sebagainya) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya.

Apa kata kunci dari definisi tersebut?

Setidaknya ada dua kata kunci. Pertama adalah cocok, dan yang kedua adalah sesungguhnya. 

Lalu, bagaimana cara kita menilai suatu hal sebagai sebuah keadaan yang cocok dengan keadaan sesungguhnya?

Sebuah contoh kejadian tentang menilai sebuah kebenaran:

Aryo berjalan keluar rumah dengan tergesa-gesa membawa sebuah bungkusan plastik hitam besar yang bagian luarnya dihinggapi lalat. Lima hari sebelumnya Aryo juga membawa bungkusan plastik hitam seperti itu, isinya adalah kertas bekas.

Beberapa tetangganya melihat kejadian tersebut. Tetangga A berpikir bahwa Aryo membawa gumpalan sampah. Tetangga B berpikir bahwa Aryo membawa mayat. Tetangga C berpikir bahwa Aryo membawa kertas bekas.

Dari ilustrasi tersebut, manakah kebenaran yang sebenarnya? Pendapat tetangga A, B, atau C? Atau kalian punya pendapat sendiri?

Bagaimana cara mengetahui kebenaran dari suatu hal atau keadaan?

Agung Adiprasetyo dalam bukunya Melihat Terang, mengatakan bahwa cara menghindari kesalahan tentang kebenaran adalah dengan tidak menggeneralisasi suatu hal. Misalnya saja, kemarin Aryo membawa bungkusan berisi kertas bekas, maka bungkusan yang dibawa Aryo hari ini belum tentu berisi kertas bekas seperti hari kemarin. Begitupun dengan tetangga B yang menyamakan bungkusan hitam yang dihinggapi lalat adalah berisi mayat berdasarkan berita kriminal yang pernah ditonton di TV, misalnya.

Menyamaratakan suatu hal dengan hal yang mirip tanpa telaah terlebih dahulu, merupakan bentuk dari menggeneralisasi.

Contoh lainnya; seorang laki-laki yang memiliki tato tertangkap melakukan perampokan. Hal ini lantas tidak dapat menyamaratakan bahwa setiap laki-laki bertato adalah perampok.

Cara Islam Mengatur Tentang Bagaimana Mengolah Kebenaran

Menurut Al-Quran surat Al A'raf ayat 179:

"...... Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah)....." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 179)

Ada tiga (3) alat yang harus kita gunakan dalam mengolah kebenaran (berupa ayat-ayat Allah) menurut kutipan surat tersebut.

1. Hati (Kalbu), untuk memahami.

Kalbu disini tidak sama dengan perasaan. Kalbu merupakan titik temu dari akal, pikiran, dan perasaan.

2. Mata, untuk melihat.

Mata merupakan alat empiris yang menangkap data secara visual dan objektif. Data ini yang kemudian akan diolah oleh kalbu sebagai tahap memahami.

3. Telinga, untuk mendengarkan.

Sebagaimana mata, telinga juga merupakan alat empiris yang menangkap data berupa suara yang akan diolah oleh kalbu.

Berdasarkan keterangan tersebut, kita tidak cukup menilai kebenaran hanya berdasarkan indra penglihatan (mata) atau indra pendengaran (telinga) saja. Sehingga, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, perlu diolah lebih lanjut menggunakan kalbu.

Seyogyanya kita seharusnya tidak terburu-buru dalam mengambil kesimpulan atas suatu hal yang belum benar-benar kita telaah dan pahami, agar suatu hal tidak menjadi salah dan fitnah atau hoaks, terutama hal yang berhubungan dengan kepentingan umum.

Begitupun dengan memahami dan menelaah terlebih dahulu suatu hal/informasi yang kita terima, akan membuat kita terhindar dari mempercayai hoaks dan fitnah dengan mudah.



*Note: Kritik dan saran yang membangun sangat terbuka untuk tulisan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Computer Vision Syndrome: Sindrom yang Semakin Marak di Era Digital

Sepuluh Kata Paling Banyak Muncul dalam Al-Qur'an

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 7-Tamat)