Opini: Sebuah Cerita Tentang Seorang Pengkhianat

Dari Gunuang Omeh, ke Jalan Lain di Moskow, Menuju Hukuman Mati di Kediri merupakan sebuah cerpen besutan Kang Heru Sang Amurwabumi, seorang penulis yang cukup berpengalaman melanglang buana di dunia kepenulisan. Dibuktikan dari karya-karya nya yang cukup banyak. Salah satu karya terbaiknya dapat menembus Ubud Writers and Readers 2019 di Ubud, Bali.

Cerita Pendek dari Gunuang Omeh ke Jalan Lain di Moskow Menuju Hukuman Mati di Kediri

Begitu membaca judulnya, satu kata yang terlintas di benak saya; kepanjangan. Bahkan mungkin ini adalah cerpen dengan judul terpanjang yang pernah saya temui. 13 kata dalam sebuah judul.

Judulnya pun terbilang cukup unik karena menggunakan diksi yang tidak umum digunakan, seperti gunuang dan omeh. Ternyata, kata gunuang berasal dari bahasa Minang yang berarti gunung. Kalau kita gabungkan, Gunuang Omeh dapat diartikan sebagai sebuah gunung bernama Omeh. Dari judulnya yang mengandung unsur bahasa Minang, pembaca dapat dengan mudah menebak bahwa tokoh cerita dalam cerpen adalah orang suku Minang. Hanya saja, memang diperlukan pengetahuan yang cukup untuk memahami makna penggunaan kata gunuang mengingat tidak semua orang mengerti bahasa Minang.

Alur cerita ini cukup menarik dengan membawa pembaca pada situasi puncak konflik, lalu mundur ke belakang yang menceritakan awal mula terjadinya konflik utama.

Terlepas dari kengerian yang membuka cerita ini, saya merasa takjub dengan perumpamaan yang digunakan penulis tentang sarang lebah yang mengisyaratkan banyaknya luka tembak pada tokoh dia.

Penggambaran karakter tokoh "dia" melalui 5 paragraf awal, cukup apik dan kuat sebagai bagian pertama cerita. Hanya saja, saya agak terganggu dengan banyaknya penggunaan kata "dia" yang mungkin bisa diganti dengan frase kata lain yang sekaligus bisa menggambarkan karakter tokoh. Seperti pada kutipan paragraf berikut;

Berpuluh-puluh tahun lalu pula, tulisannya berjudul “Tanah Orang Miskin” membuat Pemerintah Kolonial murka. Dia mengkritik keras adanya penderitaan serta keterbelakangan hidup kaum bumiputera di Sumatera.

Paragraf tersebut dapat diubah menjadi versi lain agar kata "dia" tidak terulang lagi. Misalnya seperti;

Pria yang berpuluh-puluh tahun lalu membuat Pemerintah Kolonial murka karena menulis "Tanah Orang Miskin", juga pernah mengkritik keras adanya penderitaan serta keterbelakangan hidup kaum bumiputera di Sumatera.

Selain itu, tambahan kata "di" sebelum kata "Jawa Timur" pada kutipan paragraf berikut ini, sepertinya tidak perlu ditambahkan.

Seminggu sebelumnya, dia semakin masuk ke pedalaman Gunung Wilis ketika mengetahui keberadaannya bersama anggota Gerilya Pembela Proklamasi lainnya sudah diendus para petinggi militer di Jawa Timur.

Pada bagian kedua cerpen, saya tidak menemukan hal yang cacat maupun mengganjal saat membacanya. Penulis begitu lihat dalam merangkai kata dalam menarasikan karakter tokoh "Aku". Bahkan, tulisan ini terasa sangat hidup dengan detail latar dan karakter yang tajam.

Begitupun pada bagian ketiga cerpen, eksekusi dialog antara tokoh "Aku" dan "Dia" yang mendukung plot cerita; menjadikan cerita ini semakin tegang dan terasa nyata.

Penempatan dialog yang diselingi dengan paragraf non-dialog, mampu menggiring jalan cerita menuju puncak konflik yang sempurna hingga menghasilkan akhir yang tepat. Sisi emosional dari masing-masing tokoh terlihat dengan jelas dalam baluran dialog dan penggambaran non-dialog oleh penulis. 

Terakhir, penyelesaian cerita ini merupakan bagian favorit saya. Pada bagian ini penulis mampu menampilkan bagaimana kompleksnya pikiran dan perasaan tokoh "Aku" dan mentransfernya ke dalam imajinasi pembaca. Kesan abu-abu bahwa tidak ada yang benar-benar putih maupun yang benar-benar hitam pada karakter kedua tokoh utama, membuat saya merasakan cerita ini sebagai suatu karya yang riil.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Computer Vision Syndrome: Sindrom yang Semakin Marak di Era Digital

Sepuluh Kata Paling Banyak Muncul dalam Al-Qur'an

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 7-Tamat)