Seekor Kucing yang Berteduh dan Lelaki yang Mengumpat
SEEKOR KUCING YANG BERTEDUH DAN LELAKI YANG MENGUMPAT
Pintu kaca bertuliskan “Buka Pukul 08.00-16.00” bergetar seiring keluarnya seorang lelaki dari dalam ruangan. Raut mukanya yang terlihat kesal, menambah suasana kelam hari itu. Di luar sana mendung menggantung sejak tengah hari tadi. Hujan pun belum bosan berjatuhan menabrakkan diri ke benda-benda bumi.
“Kalau tau treatment yang diberikan hanya seperti itu, aku tidak akan jauh-jauh datang kesini. Membuang-buang waktuku saja.”, keluhnya.
Ruangan tadi merupakan klinik dokter Syakib yang terkenal di Pulau Gawean. Konon, setiap orang yang datang ke tempat praktek beliau, akan kembali merasakan kebahagian dalam hidupnya. Dan Aryo, lelaki itu, ingin membuktikannya. Akhir-akhir ini pikirannya penuh dengan berbagai masalah. Beberapa bawahannya mulai banyak yang bertingkah. Si Rudi, anak kemarin sore yang baru lulus, mengajukan beberapa gagasan yang pada akhirnya mengobrak-abrik proposalnya dalam rapat besar kemarin. Posisinya terancam oleh kehadiran Rudi. Belum lagi si Sinta, mantan partnernya setahun lalu, yang sempat ia gandrungi berbulan-bulan, kabarnya telah dipinang orang.
Agaknya masalah memang sedang hobi mengunjungi si Aryo akhir-akhir ini. Hari Senin lalu, pembongkaran gorong-gorong di kompleks perumahan yang ia tinggali, menyebabkan kemacetan yang cukup parah. Ia harus mengorbankan diri untuk memutar jalan jika tidak ingin terjebak kemacetan yang lebih parah lagi. Masalah tidak berhenti sampai disitu saja. Tanpa kabar, tanpa peringatan, air bah masuk menerobos ke dalam rumahnya. Hujan semalaman berhasil menjebol tanggul lokal yang kapasitasnya memang kurang memadai. Atau memang hujannya yang terlalu deras. Intinya, air telah menggenangi sebagian besar ruangan rumahnya.
Sepulang dari klinik dokter Syakib, Aryo menyempatkan diri untuk mampir ke tempat makan favoritnya. Rumah Masakan Padang. Sebenarnya itu bukan tempat favorit Aryo, melainkan tempat favorit gebetannya, si Sinta. Bagi Aryo, apa yang disukai Sinta adalah hal yang disukainya pula. Hingga sampai sekarang, kemanapun Aryo pergi, ia pasti akan memilih Rumah Masakan Padang sebagai tempat makan favoritnya.
Baru beberapa meter meninggalkan rumah makan, hujan turun kembali. Memaksa Aryo untuk berteduh sekenanya di ruko yang kebetulan kosong. Tidak terlihat siapapun disana. Aryo mengambil sebuah bangku lusuh, mengelapnya sedikit dengan lap yang biasa ia gunakan untuk motornya. “Hari yang cukup sial”, begitu gumamnya. Handphone yang sejak tadi terselip di bagian saku dalam jaketnya, terlihat tidak menunjukkan sinar lagi. Mati.
Hujan, handphone mati, dan sendirian, sudah hampir berhasil membunuh Aryo petang itu. Sampai ketika terlihat sebuah gerakan dari pojok ruko. Seekor anak kucing berwarna putih yang lucu. Aryo berusaha mendekati kucing itu, tapi sayangnya ia menjauh. Aryo lalu teringat nasi padang yang dibungkusnya tadi. Menggunakan lauk dari nasi bungkus tersebut, Aryo mencoba merayu si kucing kecil untuk mendekatinya. Namun, hasilnya tetap saja nihil. Bukannya mendekat, si kucing malah lari menjauh menerobos hujan, untuk beberapa detik kemudian entah hilang dari pandangan.
“Dasar kucing bodoh. Dikasih makan kok gak mau. Malah kabur. Kalau kamu gak kabur, kamu pasti bisa menikmati rendang di tengah hujan begini. Kalau seperti ini kan, kamu kehujanan juga. Padahal niatku baik, eh malah dia kabur.”
Iseng-iseng untuk membunuh kebosanan, ia membuka tas ransel. Menguraikan isinya yang mulai tidak tertata lagi. Berbagai dokumen bercampur baur seperti pasar lama yang biasa ia lewati sepulang kerja. Berhamburan. Satu-persatu ia mulai memilah-milah kertas-kertas yang berhamburan lalu memasukkannya ke dalam map plastik yang ada. Pandangan matanya tertuju pada selembar kertas berwarna biru. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ia buka kertas tersebut.
Tertempel cap klinik dokter Syakib di ujung kanan kertas tersebut. Melihat cap itu, Aryo mulai malas untuk melanjutkan niatnya membaca kertas tersebut. Namun, karena rasa penasaran dan tidak ada hal yang bisa ia lakukan lagi, akhirnya Aryo membaca tulisan pada selembar kertas biru itu.
“Ibarat masalah hidupmu yang kau bilang sangat banyak itu, tanggul yang kokoh menantang pun akan jebol kalau melawan derasnya air bah yang tak tertahankan. Kau bukan harus menjadi orang yang keras layaknya tanggul itu, anak muda. Justru kau perlu mencontoh penjaga tanggul yang cerdik. Ia tau kapan harus mengosongkan isi tanggul, dan kapan harus menahan sekuatnya. Istirahatlah. Kosongkan sejenak bila kau merasa tak mampu. Jangan menunggu dirimu roboh seperti tanggul tersebut.”
Aryo lantas bergegas mengemudikan motor menjauhi arah kontrakan yang selama ini ia tempati.
Pandangannya menyapu ke segala arah. Sudah lama sekali jalanan itu tidak ia lewati. Bersama semburat merah yang menghangatkan pipi, sejauh 40 KM ia berkendara tanpa henti.
Matanya masih terpaku, tidak banyak yang berubah kecuali dirinya sendiri, begitu pikirnya. Ia tarik nafas yang dalam, kakinya menjejak tak kemana-mana. Sampai tangan keriput yang dulu terasa familiar sekali sentuhannya, erat membawanya masuk ke dalam sebuah tempat yang hangat; bernama rumah.

Komentar
Posting Komentar