Tentang Bekerja dan Kesehatan

We squander health in search of wealth.

We scheme and toil and save,

then squander wealth in search of health

and all we get is a grave.

We live and boast of what we own,

We die, and only get a stone 

(Unknown)


Puisi dalam Bahasa Inggris tersebut merupakan salah satu puisi non-Bahasa Indonesia favorit saya. Tidak diketahui judul maupun penulis aslinya. Meski begitu, puisi ini telah banyak dikutip dalam buku, artikel, dan juga blog. Ya seperti blog saya ini. Bahkan, dari yang saya baca di beberapa halaman online, puisi ini menginspirasi banyak orang dan tokoh terkenal untuk menjalani hidup yang lebih sehat.

Pertama kali saya bertemu puisi ini adalah ketika saya membaca sebuah buku terjemahan berkategori kesehatan. Jauh sebelum itu, saya mulai tertarik mempelajari tentang bagaimana cara hidup sehat lantaran kekaguman saya pada guru PKN pada masa SMA. Beliau seorang wanita berusia 40an tahun dan masih terlihat sangat muda. Awet muda bahkan. Semenjak itulah saya mulai mencari-cari literatur tentang bagaimana menjadi awet muda, yang berujung pada bagaimana hidup sehat.

Dahulu saat menuliskan puisi ini dalam buku catatan harian, saya merasa puisi ini seperti pedang yang berukir. Kata-katanya indah, tapi tajam. Ya, itu dulu waktu saya masih SMA. Kini, melewati usia kerja, puisi itu bergeser menjadi cambuk yang menyindir. Bagaimana tidak, kita capek-capek kerja, terus sakit, dan akhirnya mati tanpa membawa apapun. Miris, kan? Agar kalian juga sedikit memahami kemirisan yang saya maksud, akan saya tuliskan arti puisi tersebut.

We squander health in search of wealth. (Kita menyia-nyiakan kesehatan untuk mencari kekayaan)

We scheme and toil and save, then squander wealth in search of health. (Kita merencanakan dan bekerja keras dan menabung, kemudian menghambur-hamburkan kekayaan untuk mencari kesehatan)

And all we get is a grave. (Dan semua yang kita dapatkan hanyalah sebuah kuburan)

We live and boast of what we own, we die and only get a stone. (Kita hidup dan membanggakan apa yang kita miliki, kita mati dan hanya mendapatkan batu.)

Puisi ini menceritakan tentang budaya bekerja keras untuk mencari uang, lalu saking kerasnya ia bekerja, akhirnya tubuh mudah terkena penyakit. Dan uang yang sudah ia kumpulkan sewaktu masih sehat, harus ia habiskan untuk mengobati penyakitnya agar ia sehat kembali.

Dan pada akhirnya, semuanya akan mati. Hal ini merupakan sindiran bagi orang-orang yang bekerja terlalu keras waktu muda, lalu menanggung sakit di hari tuanya karena kebiasaannya sewaktu masih muda tersebut. Salah satu contohnya, bekerja tanpa istirahat, lembur berhari-hari, hingga melupakan merawat diri. Lupa makan yang bergizi, tidur tidak teratur, kurang tidur, terlalu lelah bekerja, dan jam kerja terlalu panjang.

Sindiran ini tepat menghujam saya sekitar beberapa waktu lalu, ketika saya bekerja mulai dari jam 7 pagi hingga jam 9 atau 10 malam hampir setiap harinya. Rambut saya mulai rontok dan lambat tumbuh. Dan tiap akhir pekan, saya selalu terkena flu.

Itu hanya efek jangka pendek. Lalu bagaimana jika kebiasaan tersebut berlanjut? Mungkin saya tidak merasakan dampak negatif yang besar untuk sekarang ini bagi kesehatan saya. Namun, tidak ada yang menjamin bagaimana saya sepuluh atau dua puluh tahun lagi.

Seperti pada kasus salah satu saudara saya. Dulu sewaktu muda, dia berjalan kaki naik turun tangga membawa beban yang cukup berat saat bekerja menjadi pegawai sebuah salon kecantikan. Lalu, saat usianya menginjak setengah abad, beberapa penyakit mulai mendatangi. Salah satunya adalah radang sendi. Dokter mengatakan bahwa radang sendi pada lutut yang dialami saudara saya itu akibat beban kerja yang terlalu berat saat ia masih muda, sehingga menyebabkan sendi lututnya menjadi aus. Tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya, karena ibarat onderdil yang rusak; ia hanya sembuh total jika onderdil itu diganti baru. Dan itu merupakan hal yang tidak mungkin. 

Survei Badan Pusat Statistik pada tahun 2016 menyebutkan bahwa sebanyak 26,74% penduduk yang bekerja di Indonesia mempunyai keluhan kesehatan. Artinya, sekitar 27 dari 100 orang pekerja mengalami keluhan kesehatan.

Islam sendiri memiliki aturan tentang waktu bekerja. Menurut surat Al-Qashas ayat 73, aturan waktu bekerja dan beristirahat sebagai berikut:

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَمِنْ رَّحْمَتِهٖ جَعَلَ لَـكُمُ الَّيْلَ وَا لنَّهَا رَ لِتَسْكُنُوْا فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

"Dan adalah karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, agar kamu beristirahat pada malam hari dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya."

(QS. Al-Qasas 28: Ayat 73)

* Via Al-Qur'an Indonesia https://quran-id.com

Ayat tersebut menyebutkan bahwa waktu bekerja adalah siang hari, sedangkan malam adalah waktu beristirahat. Tuhan menyuruh kita untuk hidup seimbang, antara bekerja dan beristirahat. Bukan bekerja tak kenal waktu, apalagi bekerja yang membuat kita lupa Tuhan dan lupa istirahat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Computer Vision Syndrome: Sindrom yang Semakin Marak di Era Digital

Sepuluh Kata Paling Banyak Muncul dalam Al-Qur'an

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 7-Tamat)