W. S. Rendra: "Si Burung Merak" yang Memesona

Bila kita tidak dapat menjadi jalan besar, 
cukuplah menjadi JALAN SETAPAK 
yang dapat dilalui orang,

Bila kita tidak dapat menjadi matahari, 
cukuplah menjadi LENTERA 
yang dapat menerangi sekitar kita,

Bila kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang, 
maka BERDOALAH untuk
kebaikan.


Kutipan sajak di atas merupakan karya terakhir W. S. Rendra sebelum ia wafat di Depok tahun 2009 silam.

Willibrordus Surendra Broto Rendra merupakan nama lengkap dari seorang penyair dan sastrawan berjuluk "Si Burung Merak", atau yang dikenal dengan nama W. S. Rendra. Ia lahir di Surakarta (Solo) sekitar 86 tahun yang lalu, tepatnya 7 November 1935. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa di salah satu SMA Katolik di Solo sekaligus dramawan tradisional bernama Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan ibunya merupakan penari srimpi di Keraton Surakarta bernama Raden Ayu Catharina Ismadillah.

Langkah pertama Rendra memasuki dunia teater dimulai ketika ia menciptakan drama Kaki Palsu saat SMP. Kemudian, pada saat memasuki jenjang SMA, ia kembali melahirkan sebuah drama teater berjudul Orang-orang di Tikungan Jalan. Karya ini merupakan drama pertamanya yang berhasil meraih penghargaan dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. 

Setelah menyelesaikan sekolah menengah atasnya, SMA (1952), di sekolah Katolik, St. Yosef di kota Solo, Rendra pergi ke Jakarta dengan maksud bersekolah di Akademi Luar Negeri. Akan tetapi, sekolah itu telah ditutup sebelum Rendra tiba di Jakarta. Rendra melanjutkan kuliah di Jurusan Sastra Barat, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, tetapi hanya mencapai gelar sarjana muda. Pada 2008 ia memperoleh gelar doctor honoris causa dari universitas ini. 

Tahun 1954 Rendra diundang oleh Pemerintah Amerika Serikat untuk menghadiri seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard. Rendra berkeliling Amerika selama dua bulan untuk mengenal lebih dekat kehidupan kesusastraan di Amerika Serikat. Dengan adanya pengalaman itu, tahun 1961 ia mendirikan kelompok teater di Yogyakarta. 

Tahun 1964 ia mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA) untuk belajar drama dan seni. Keberangkatannya ke Amerika Serikat itu membuat kegiatan teater di Yogyakarta terhenti. Pendidikannya itu diselesaikannya tahun 1967. Tahun 1968 Rendra mendirikan Bengkel Teater yang kemudian menjadi sangat terkenal di Indonesia karena memberi warna dan suasana baru dalam kehidupan teater di Indonesia, khususnya Yogyakarta. 

Karya-karya Rendra, antara lain berbentuk:

A. Kumpulan Puisi
1) Balada Orang-Orang Tercinta (1957), 
2) Kumpulan Sajak (1961), 
3) Blues untuk Bonnie (1971), 
4) Sajak-Sajak Sepatu Tua (1972), 
5) Potret Pembangunan dalam Puisi (1983), 
6) Nyanyian Orang Urakan (1985), 
7) Disebabkan oleh Angin (1993), dan 
8) Orang-Orang Rangkasbitung (1993), 

B. Naskah Drama 
1) Orang-Orang di Tikungan Jalan (1954), 
2) Selamatan Anak Cucu Sulaiman (1967), 
3) Mastodon dan Burung Kondor (1972), 
4) Kisah Perjuangan Suku Naga (1975), 
5) SEKDA (1977), dan 
6) Panembahan Reso (1986), 

C. Pentas Drama (Teater) dengan Naskah Pengarang Lain
1) "Paraguay Tercinta" (1961) karya Fritz Hochwalder, 
2) "Odipus Sang Raja" karya Sophocles, 
3) "Oedipus di Colonus" karya Sophocles, 
4) "Antigone" karya Sophocles, 
5) "Lysistirata" karya Aristophanes; 
6) "Menunggu Godot" karya Samuel Beckett, 
7) "Macbeth" karya Willdiam Shakespeare, 
8) "Hamlet" karya Willdiam Shakespeare, 
9) "Pangeran Homburg" karya Heinrich von Kleist, 
10) "Kasidah Barzanji" karya Al Barzanji terjemahan Syu'bah Asa, 
11) "Egmont" karya Goethe, 

D. Pentas Drama Karya Sendiri
(1) "Mastodon dan Burung Condor" (1973), 
(2) "Perjuangan Suku Naga", 
(3) "Panembahan Resso", 
(4) "Sabda" (banyolan), 

E. Kumpulan Esai
Mempertimbangkan Tradisi (1983).

Beberapa karya Rendra telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman, Jepang, Hindi, dan Belanda. Rendra mendapat beberapa penghargaan dan hadiah sebagai berikut.

Hadiah dan Penghargaan Rendra
1) Hadiah Sastra Nasional BMKN tahun 1957, 
2) Anugerah Seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1970, 
3) Hadiah dari Akademi Jakarta tahun 1975, 
4) Hadiah Adam Malik tahun 1989, 
5) Wertheim Award untuk perjuangan Hak-Hak Asasi Kemanusiaan dalam Seni tahun 1991, 
6) SEA Write Award tahun 1996. 

Undangan Pentas dan Festival, antara lain adalah
1) Festival Puisi Internasional Rotterdam, tahun 1971, 
2) Festival Puisi Internasional, Rotterdam, tahun 1979, 
3) Festival Puisi Dunia III, Amsterdam, tahun 1981, 
4) Festival Puisi Internasional Valmiki, New Delh,i tahun 1985, 
5) Festival Horizonte, Berlin, 
6) Festival Seni New York I, tahun 1985, 
7) Festival Dunia Puisi Vagarth, Bhopal, tahun 1989, 
8) Festival Dunia Puisi Kuala Lumpur, tahun 1992, 
9) Interlit 3 (International Literary Festival 3, Erlangen, Berlin, tahun 1993, 
10) Festival Internasional Adelaide tahun 1994, dan 
11) Festival Tokyo tahun 1995.




Sumber Referensi: http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Rendra |
Biografiku.com.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Computer Vision Syndrome: Sindrom yang Semakin Marak di Era Digital

Sepuluh Kata Paling Banyak Muncul dalam Al-Qur'an

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 7-Tamat)