Waktu Itu, Memakai Masker adalah Aib
Waktu itu, memakai masker adalah aib. Orang-orang di sekitar memandang jijik dan risih ketika melihat serombongan wanita asia berhijab dan mengenakan masker medis melintas di keramaian. Dan rombongan itu adalah kami yang sedang melaksanakan studi tour. Bukan di Indonesia, melainkan di negara tetangga, Australia.
Awal Maret 2020, Corona Virus Disease atau yang sekarang lebih dikenal dengan Covid19 belum berdampak seluas saat ini. Pada waktu itu, bahkan Australia belum menerapkan kebijakan apapun terkait keberadaan virus ini.
Senin, 2 Maret 2021 merupakan sejarah pertama Covid19 diumumkan secara resmi muncul di Indonesia. Di hari yang sama pula, kami telah terbang dari Banjarmasin menuju Jakarta sejak pagi buta. Perasaan dag-dig-dug dan khawatir mulai menggoncang kepala. Bagaimana tidak? Selepas ini kami masih harus melanjutkan perjalanan menuju Australia di tengah-tengah huru hara yang belum jelas akhirnya.
Satu hal yang membuatku sedikit tenang; bahwa setidaknya, kami sudah membekali diri dengan masker, hand sanitizer, dan vitamin C. Tak lupa, kami juga melakukan vaksinasi Influenza sebagai pencegahan karena vaksin Covid19 yang belum ada.
Fakta bahwa penelitian tentang Covid19 baru saja dimulai dan belum banyak menghasilkan data yang valid, membuat informasi yang berkembang menjadi simpang siur terutama terkait protokol kesehatan dan penanggulangan wabah tersebut.
Jika saat ini semua orang wajib memakai masker, maka hal ini berkebalikan dengan keadaan saat itu. Masker tidak wajib dipakai. Hanya orang-orang sakit lah yang wajib menggunakannya. Akibatnya, perilaku preventif kami yang menggunakan masker kemanapun kami pergi, malah berakibat seperti bumerang yang membuat orang-orang mengira kami adalah pesakitan yang sedang jalan-jalan.
Bahkan tak hanya satu-dua orang yang bertanya, "Are you sick?". Ingin rasanya saat itu kami menjawab, "Yes, I'm sick of your question." Hahaha
Berkunjung ke negera asing disaat keadaan genting memanglah bukan hal yang menyenangkan. Apalagi kami bersama rombongan anak-anak remaja Sekolah Menengah yang perlu pengawasan dan tanggung jawab lebih.
Menjaga dan memberi pengertian kepada mereka agar tetap disiplin selama perjalanan dari Banjarmasin-Jakarta, kemudian Jakarta-Sidney, dan masih berlanjut lagi Sidney-Brisbane dengan tatapan jijik dari orang sekitar; merupakan hal yang cukup menantang.
Syukurlah perjalanan kami dari Indonesia menuju Brisbane di bulan Maret 2020 silam berjalan cukup lancar. Kami bersyukur bahwa tindakan preventif kami dengan memakai masker dan menggunakan hand sanitizer saat itu membantu kami terhindar dari terpapar virus Corona sekalipun kami berada di fasilitas umum selama puluhan jam.
So, di manapun kamu berada, terutama di tempat umum; patuhilah protokol kesehatan sebagai tindakan preventif mencegah penyebaran Covid19 demi kebaikan bersama.
#seri perjalanan ke Aussie
#part1

Loh, dari Banjarmasin? Asli Kalimantan, kah?
BalasHapusEnggk kak, kebetulan pernah kerja disana. Kakak asli Kalimantan?
HapusOohh gt yaa. Iya ni. Hehe
HapusWow bisa ke luar negeri itu sesuatu ya Kak?
BalasHapus