Cerbung: Candrasengkala (Bag. 3)
“Pikirkan dengan hati-hati perkara ini. Aku menunggu kabar baik darimu tiga hari ke depan”, kata Raja kepada Sanggramawijaya Tunggadewi.
Wanita itu masih di sana, mematung. Antara sadar dan tidak sadar memikirkan mengapa mimpinya kemarin malam masih berlanjut. Seakan kejadian ini nyata dan tersambung dengan mimpi sebelumnya. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan buku bersampul coklat milik Aksa yang tanpa sadar telah dibukanya? Ah ya, Aksa. Dia menyesal mengapa tidak memberitahukan kepada Aksa hal yang sebenarnya terjadi pada saat buku itu diambil tadi siang; tentang Candrasengkala yang terlanjur ia buka dan baca sebagian.
Melihat Sanggamawijaya terdiam di tengah ruangan, Si Mbok menghampiri Sanggramawijaya lalu menanyai apakah ia baik-baik saja. Tak lama kemudian Sanggamawijaya tersadar dari lamunannya dan keluar Pendopo Utama diikuti oleh Si Mbok. Ia berniat kabur dari tempat ini, tapi sialnya dia bahkan tidak punya cukup pengetahuan tentang dunia ini. Keragu-raguannya semakin bertambah melihat istana ini berada di tengah-tengah bukit yang dikelilingi hutan dan jurang yang dalam.
Tak ada tempat lain yang ia kenal kecuali taman bunga tempat pertama kali Sanggramawijaya bangun di dunia ini. Dengan langkah pasti, ia berjalan menuju Udiyani; kebun raja yang katanya dulu sering didatangi oleh Permaisuri yang juga merupakan ibunya saat wanita nomor satu di kerajaan itu masih hidup.
Sebuah bangku panjang yang lebih mirip katil daripada risban berjejer di tepi kolam bagian utara. Pohon bunga kenanga tumbuh tinggi mengayomi katil-katil itu berada. Sanggramawijaya memilih satu bangku yang ada di tengah, mencoba merebahkan diri sembari menghirup wangi bunga kenanga yang menyambutnya pertama kali ke dunia ini. Pikirannya buntu. Ia tak tau apa yang harus dilakukan sekarang. Jika kemungkinan untuk kabur itu tidak mungkin, lantas jalan mana lagi yang harus ia tempuh.
“Oh, mungkin aku hanya perlu menunggu sampai besok dan mimpi aneh ini akan berakhir seperti malam sebelumnya.” Begitu pikirnya.
Dua hari telah berlalu sejak Raja menemuinya dan Sanggramawijaya masih ada di dunia mimpi tempatnya tinggal sekarang. Kalau besok ia tidak bangun dari mimpi ini, maka mau tidak mau ia harus memikirkan sebuah jawaban atas lamaran penguasa hutan Lodaya; Singalodra.
Si Mbok yang melihat tuannya makin hari makin murung, berinisiatif mengajak Sanggramawijaya jalan-jalan. Sanggramawijaya menyetujui ajakan Si Mbok tanpa pikir panjang. Mungkin sedikit jalan-jalan dapat mencerahkan otaknya dan memberinya ide yang bagus untuk menjawab pertanyaan Raja nanti sore, begitu pikirnya.
Pagi itu di hari ketiga, Si Mbok dan Sanggramawijaya berjalan keluar kompleks istana utama ditemani beberapa prajurit. Mereka berjalan ke arah barat menuju sebuah kolam yang dinamai Patirtan. Selama perjalanan, Sanggramawijaya terlihat sangat menikmati pemandangan yang mereka lalui.
“Mbok, itu gunung apa saja?”, tanya-nya tentang dua gunung yang mereka temui. Satu gunung yang terlihat lebih besar dan dekat, sedangkan satu lagi gunung yang menjulang tinggi berada lebih jauh.
“Yang dekat itu Gunung Kelud, Ndoro. Istana Airlangga terletak di lereng sebelah utara. Kalau yang disana itu namanya Gunung Semeru atau orang-orang biasa menyebutnya Jonggrang Saloka”, terang Si Mbok.
Setelah menikmati kesegaran kolam Patirtan, mereka tiba kembali di Istana pada siang menjelang sore. Seorang laki-laki paruh baya nampak bergegas menyambut rombongan kecil kami ketika memasuki istana. Ia berbisik pada Si Mbok dengan wajah yang serius.
“Ndoro Sanggaramawijaya sudah ditunggu Raja di Pendopo Utama. Kita langsung kesana ya”, ucapnya sembari mengarahkan penunggang kuda untuk memacu kereta ke arah Pendopo Utama.
Suasana yang damai nan menyenangkan beberapa waktu lalu, tiba-tiba berubah menjadi menegangkan. Terutama suasa hati Sanggramawijaya.
“Bagaimana, Anakku?”, tanya Raja menagih jawaban Sanggramawijaya tentang lamaran tiga hari lalu.
“Untuk mengetahui kesungguhannya, aku akan menerima Pangeran Lodaya apabila ia bisa memenuhi permintaanku.”, ucap Sanggramawijaya dengan nada bergetar.
“Apa itu?”, balas Raja dengan keheranan. Ia tak menyangka putrinya akan meminta sesuatu. Lebih kagetnya lagi, ia tak menyangka bahwa putrinya mau memberi kesempatan menerima lamaran Singalodra.
Dengan keberanian yang ia kumpulkan selama perjalanan pulang dari Patirtan, Sanggramawijaya menyampaikan keinginannya. “Aku ingin Pangeran Lodaya membawakanku pusaka yang bisa menghancurkan sebuah gunung.”
Semua orang dalam ruangan itu seketika hening dan tercekat. Raut bahagia Raja tiba-tiba berubah tajam menatap Sang Putri. Namun, keputusan Sang Putri tidak bisa lagi dapat diubah.
Di bagian dunia lain, sebuah buku bersampul coklat berjudul Candrasengkala tersimpan dalam brankas kayu jati. Aksa berusaha menyimpannya dengan lebih hati-hati agar buku itu tak lagi terjatuh, apalagi terbuka. Satu hal yang tidak Aksa sadari bahwa buku itu memiliki kehendaknya sendiri. Malam itu, Candrasengkala yang semula tersimpan rapi, tiba-tiba kaitnya lepas dan terbuka.
----------------------bersambung--------------------------
Referensi foto: anomharya.com
Komentar
Posting Komentar