Cerbung: Candrasengkala (Bag. 4)

Singalodra, Sang Penguasa Hutan Lodaya pergi mengembara ke barat ditemani oleh adiknya, Jakalodra. Mereka menyusuri hutan sampai ke bagian terdalam untuk mencari pusaka yang mampu menghancurkan sebuah gunung, sesuai permintaan gadis pujaan hatinya; Sanggramawijaya Tunggadewi.

Menurut beberapa desas-desus yang beredar di kalangan Desa Sesepuh, ada sebuah pusaka bernama Pecut Samandiman yang mampu membelah gunung. Berdasarkan cerita, Pecut Samandiman tersimpan di sebuah gua yang letaknya jauh di dalam hutan Kadipaten Blitar.

 


Setelah menyusuri beberapa hutan yang berbeda, dibantu juga oleh informan dari para pengikutnya, akhirnya Singalodra dan adiknya dapat menemukan keberadaan gua yang diduga menjadi tempat bersemayam Pecut Samandiman.

Dari luar penampakan gua itu seperti gua biasa, hanya berupa batu-batuan gua dan beberapa batu besar sisa letusan Gunung Kelud beberapa tahun silam. Namun, begitu masuk ke dalam, Singalodra dan Jakalodra terheran-heran menyaksikan keindahan pemandangan stalaktit dan stalakmit di dalamnya.

“Apa yang kalian cari disini?” Sebuah suara mengagetkan mereka berdua. Singalodra meloncat ke belakang, disusul oleh adiknya.

Laki-laki tua setinggi kurang lebih setengah meter muncul dari gua bagian dalam. Ia memperkenalkan diri sebagai Resi Agatshya. Ia merupakan seorang guru para resi yang pergi menyendiri jauh ke dalam hutan ini. Resi Agatshya berkepala gajah, dengan tangan kanan memegang aksamala (tasbih) dan tangan kiri memegang kendi. Sekilas penampakan perutnya yang buncit membuatnya terlihat seperti Semar.

Singalodra dan adiknya kemudian menyampaikan maksud dan tujuannya kepada Resi Agatshya tentang pusaka yang mampu menghancurkan gunung, yang kemudian dijawab oleh Sang Resi, “Tiap hari lahir dan hari ketiga setelahnya, tahanlah dirimu untuk tidak makan, minum, dan berbuat dosa mulai dari srengenge bangun sampai turun lagi ke bumi. Lalu tiap malam menjelang ujung pagi, cobalah buka mata, telinga, dan hatimu di tengah keheningan. Kalau kamu bisa menjalani tirakat ini selama 40 periode berturut-turut, Sang Hyang Suci akan memberikan petunjuk padamu.”

Empat puluh periode, itu sama dengan empat puluh minggu atau sekitar 10 bulan. Waktu yang cukup panjang untuk bisa mendapatkan petunjuk tentang Pecut Samandiman. Singalodra bimbang apa yang harus ia lakukan. Ia lalu meminta pendapat adiknya, Jakalodra tentang kebingungannya tersebut.

“Sebaiknya kita pulang saja, Mas. Kita perlu segera memberitahukan perkara ini kepada Raja Airlangga.”

Kakak-beradik itu pun kembali ke Kerajaan Airlangga dan menemui Raja. Ia dengan takzim dan seksama, bersiap hendak mendengarkan seluruh kisah mereka. Namun, tepat sebelum Singalodra memulai cerita, Sang Raja menghentikan mereka dan meminta salah seorang abdi dalem untuk memanggil Sang Putri agar bisa bergabung bersama mereka.

Seketika Singalodra nampak canggung. Ini adalah kali pertamanya bertemu Sang Putri pada jarak dekat. Begitupun dengan Putri Sanggramawijaya Tunggadewi, ia nampak duduk di sebelah ayahnya dengan kaku.

Sejenak keberadaan Sang Putri seperti menyihir Singalodra, sebelum kemudian Raja memintanya melanjutkan cerita kembali.

“Bagaimana, anakku Sanggramawijaya? Apakah kamu bersedia menunggu selama sepuluh bulan?”, tanya Raja kepada Sang Putri.

“Baik, Ayah. Aku bersedia. Selain itu, selama sepuluh bulan itu ijinkanlah aku pergi berguru ke Padepokan Ronggohadinegoro. “

Bukan tanpa sebab Sanggramawijaya meminta ijin berguru di Padepokan Ronggohadinegoro. Beberapa hari lalu, saat ia membaca sebuah kitab di dalam Istana, ia melihat istilah Candrasengkala yang di tulis dalam bukunya Romo Ronggohadinegoro. Ia kemudian mencari tau keberadaan penulis itu lewat para abdi dalem.

Setelah dua bulan ia terjebak di dunia ini, Putri Sanggramawijaya tidak punya pilihan dan berpikir bahwa ia harus banyak belajar dan beradaptasi sampai ia berhasil menemukan cara kembali ke dunianya. Dan di Padepokan Ronggohadinegoro lah ia berharap dapat menemukan cara tentang bagaimana bisa kembali ke dunianya dulu.

--------------------bersambung------------------- 

 

 

Referensi Gambar: Jelajah Blitar

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Computer Vision Syndrome: Sindrom yang Semakin Marak di Era Digital

Sepuluh Kata Paling Banyak Muncul dalam Al-Qur'an

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 7-Tamat)