Cerbung: Candrasengkala (Bag. 5)

 Sejak dua hari ini para abdi dalem sibuk mengurus persiapan keberangkatan Ndoro Putri Sanggramawijaya Tunggadewi menuju Padepokan Romo Ronggohadinegoro untuk menimba ilmu. Padepokan itu berada di arah selatan Gunung Kelud, tepatnya di desa Kalasan. Desa ini merupakan daerah yang cukup subur dan ramai meskipun jauh dari pusat kerajaan. Untuk menuju ke sana, diperlukan waktu kurang lebih seperempat hari menggunakan kereta kuda dengan jalanan yang cenderung menurun.

Setelah semua persiapan selesai, Sanggramawijaya Tunggadewi memutuskan untuk segera berangkat menuju padepokan dan meninggalkan istana. Nampak wajah Paduka Raja yang sedikit gelisah melepas kepergian putri semata wayangnya tersebut.

“Ayah tak usah khawatir, jalan menuju padepokan cenderung aman. Selain itu, Paman Senopati juga telah mengirimkan pengawal terbaik untuk menjagaku selama di perjalanan.”, ucap Putri Mahkota berusaha menenangkan ayahnya.

Paduka Raja pun melepas keberangkatan Putri Mahkota dengan sebuah pelukan. “Cepatlah kembali, Anakku. Jangan lupa untuk mengirim surat.”

Beberapa prajurit terlihat ikut mengawal Sang Putri bersama dua orang dayang, salah satunya adalah Si Mbok. Mereka berangkat di pagi hari, menghindari jalanan yang panas dan berdebu.

Tepat memasuki waktu dhuha, mereka tiba di gerbang pintu masuk Desa Kalasan. Tiba-tiba perjalanan mereka dihentikan oleh penjaga gerbang.

“Maaf Tuanku, ada apa gerangan Tuan hendak ke kampung kami?”, tanya seorang lelaki berperawakan gempal kepada kepala pengawal.

“Junjunganku Putri Mahkota Airlangga hendak menuju Padepokan Romo Ronggohadinegoro untuk menimba ilmu. Bukankah hal ini telah diberitahukan kepada kalian? Cepatlah minggir, Pemuda. Atau kudaku ini akan menabrakmu.” Tanpa turun dari kudanya, Kepala Pengawal terlihat bercakap-cakap dengan lelaki penjaga gerbang.  

Pemuda desa yang menjaga pintu gerbang itu tak terlihat takut sedikitpun. Malah ia berani menjawab ancaman Kepala Pengawal. “Ampun Tuan, tapi hanya orang-orang yang berpendidikan dan berperilaku seperti orang berpendidikanlah yang boleh memasuki desa kami.”

Muka Kepala Pengawal seketika merah padam mendengar ucapan Penjaga Gerbang. Ia hendak mengayunkan keris sampai suara Putri Sanggramawijaya berhasil menghentikan Kepala Pengawal.

“Sudah cukup, Paman. Biarkan aku turun dan mengikuti aturan yang sudah ada.”, begitu tutur Putri Sanggramawijaya sambil turun dari kereta kuda menuju pintu gerbang seorang diri.

Semua orang merasa khawatir, terutama Si Mbok. Wanita tua itu tergesa-gesa mengikuti langkah Sang Putri. Sanggramawijaya sempat menolak Si Mbok mengikutinya, akan tetapi wanita tua itu bersikeras hendak mengikuti junjungannya sampai kemanapun.

“Mohon ampun, Ndoro Sanggramawijaya Tunggadewi. Hamba diperintahkan oleh Romo Ronggohadinegoro untuk menyampaikan pesan ini apabila Ndoro sudah sampai disini. Romo meminta Ndoro sendirilah yang berjalan menuju padepokan tanpa dikawal maupun menggunakan kereta kuda. Ndoro harus berjalan kaki mulai dari gerbang ini sampai menuju padepokan.”

Meskipun sebenarnya Sanggramawijaya keberatan dengan syarat dari Romo, dengan terpaksa ia harus mengikutinya. Bukankah lebih mudah dan lebih nyaman apabila bisa pergi ke sana dengan mudah. “Baiklah, Paman Penjaga Gerbang. Aku akan berjalan kaki dari sini. Bisakah kau tunjukkan jalannya?”

Bukannya mengantarkan Sang Putri, si Penjaga Gerbang malah memanggil seekor burung Kuntul berwarna putih. “Burung ini yang akan menunjukkan jalan padamu, Tuanku. Sekali lagi hamba hanya menjalankan tugas. Tuan harap berhati-hati selama perjalanan.”

Putri Sanggramawijaya mulai berjalan kaki ditemani oleh Si Mbok, sedang seluruh pengawal diminta Sang Putri untuk kembali ke kerajaan. Putri meminta mereka untuk tidak menceritakan perihal ini kepada Raja. Ia takut Raja akan khawatir dan tidak mengijinkannya pergi menimba ilmu.

Jalanan setapak dengan petak-petak sawah yang berjejer di sebelah kanan dan pohon jati di sebelah kiri, juga beberapa burung hutan terdengar saling bersahutan menemani perjalanan Putri Sanggramawijaya. Perjalanan yang cukup menyenangkan, begitu pikirnya. Ditambah angin sepoi-sepoi dan matahari yang tidak terlalu terik karena tertutupi pepohonan yang tumbuh di sekitar kanan-kiri jalan.

Burung Kuntul warna putih itu terbang merendah, kemudian turun ke bawah. Ia terlihat berhenti di suatu tempat. Sanggramawijaya terlihat senang, artinya tidak jauh di depan sana Padepokan Romo Ronggohadinegoro berada dan akhirnya perjalanan ini segera sampai ke tempat tujuan.

Sesampainya di tempat Kuntul putih, Sanggramawijaya kaget karena terdapat sebuah parit di tempat itu. Ia harus menyeberangi parit selebar kaki orang dewasa untuk bisa sampai ke seberang. Namun sayangnya, tidak ada jembatan di sekitar situ. Sanggramawijaya pun terlihat kebingungan. Ia juga tidak bisa memutar jalan, karena si Kuntul hanya mau menunjukkan jalan ini. 

(sumber gambar: pixabay)

 

Si Mbok kemudian berinisiatif untuk turun ke parit, mencoba menyeberanginya. Baru satu langkah pertama, kaki Si Mbok sudah tercelup sampai lutut. Alhasil mereka memilih untuk mundur kembali.

Langit sudah menunjukkan sore hari. Putri Sanggramawijaya menatap langit, antara harus terus berharap atau putus asa. Tiba-tiba sebuah ranting kecil jatuh menimpa wajahnya. Ia menengok darimana arah ranting itu berasal.

“Mbok, aku menemukan cara. Ayo ikut aku. Kita cari sebatang kayu dari pohon mati sebelah sana.”, teriak Sanggramawijaya pada Si Mbok.

Setelah mereka mendapatkan kayu yang akan digunakan sebagai jembatan, Putri Sanggramawijaya dan Si Mbok berhasil menyeberangi parit sampai ke seberang dengan selamat.

Baru tujuh langkah mereka beranjak dari parit, tiba-tiba muncul sebuah padepokan di hadapan mereka. Sedangkan parit tadi telah raib dengan misterius pula.

Berjalan dari dalam padepokan, seorang lelaki tua yang masih terlihat tegap menghampiri Sanggramawijaya. “Selamat datang, Tuan Putri. Selamat telah melewati satu tantangan pertamamu.”

Putri Sanggramawijaya terlihat masih kebingungan dengan cepatnya perubahan yang terjadi. “Siapa kamu? Apa yang kamu maksud dengan tantangan?”

Lelaki itupun mulai mengenalkan diri. “Perkenalkan lelaki tua di hadapanmu ini adalah Ronggohadinegoro. Aku tau apa yang kamu cari disini. Tuan Putri bisa mendapatkan itu setelah berhasil melewati tiga tantangan. Dan salah satunya telah berhasil Tuan Putri taklukkan. Yang barusan tadi adalah tantangan penjara alam. Tuan Putri dianggap lulus setelah berhasil menaklukkan tantangan alam dengan ilmu dan buah pikiran tuan putri.”

Sejenak Sanggramawijaya merasa bahagia, tapi di sisi lain kekhawatiran masih menyelimutinya. Ada dua tantangan lagi yang harus ia taklukkan.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Computer Vision Syndrome: Sindrom yang Semakin Marak di Era Digital

Sepuluh Kata Paling Banyak Muncul dalam Al-Qur'an

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 7-Tamat)