Cerbung: Cangdrasengkala (Bag. 6)
Padepokan Romo Ronggohadinegoro terletak di sebuah dataran seluas kurang lebih lima hektar. Keberadaannya yang dekat dengan pusat pengetahuan kota dan pasar besar, membuat padepokan itu mampu berdiri mandiri tanpa mengandalkan barang dari luar. Segala keperluan baik keperluan sehari-hari maupun keperluan yang terkait dengan sekolah, mudah diperoleh dari dua ikon tersebut. Apalagi kebanyakan pedagang disana merupakan murid padepokan yang telah lulus terlebih dahulu.
Setelah seminggu di sana, Putri Sanggramawijaya Tunggadewi diajak jalan-jalan ke sekitar Desa Kalasan. Sungai yang jernih, sawah dengan padi yang menguning, dan buah kelapa yang ranum menggantung; menambah asri suasana pagi itu.
Di seberang sungai, tepatnya di sebelah selatan deretan persawahan, terdapat pemukiman warga lokal yang kesehariannya bertani dan berkebun. Terkadang mereka juga mencari ikan di sungai. Dari rumah-rumah itu, terlihat sebuah rumah yang ukurannya jauh lebih besar daripada rumah lainnya. Halamannya pun luas dengan bekas pintu gerbang dan pagar menjulang mengelilinginya. Penampakannya yang tak terawat dan kusam, tidak mengubah kesan bahwasanya rumah itu dulu merupakan rumah besar milik seorang kaya di daerah ini.
Ketika melintasi depan rumah besar itu, seorang kakek tua keluar dari dalam rumah. Ia terlihat membawa sabit di tangan kanannya, sedang tangan kirinya memegangi gagang cangkul yang tersampir di pundak kiri. Tidak ada yang spesial dari penampilan kakek tua itu, kecuali sinar mukanya yang jernih dan bersahaja. Putri Sanggramawijaya tertarik dengan keteduhan yang dimiliki oleh kakek tersebut.
Sesampainya di Padepokan, karena rasa penasarannya yang tinggi, ia bertanya pada Romo Ronggohadinegoro tentang kakek tua yang ia temui di jalan tadi. “Romo, tadi aku melihat seorang kakek tua yang tinggal di sebuah rumah besar di seberang sungai. Siapakah dia?”
“Kakek tua yang kau temui itu dahulunya adalah seorang Kepala Desa. Dua tahun lalu, ia ketahuan mencuri persembahan untuk Sang Hyang Suci. Padahal, selama tiga tahun sebelumnya, ia selalu menjalankan tugasnya sebagai Kepala Desa dengan sangat baik. Bahkan, semua warga desa selalu memuji dan menjadikannya teladan. Namun sayang, hanya karena satu kesalahan, ia menjadi dikucilkan oleh masyarakat. Tidak hanya itu, anak dan istrinya pun pergi meninggalkan dia karena tidak tahan menanggung malu karena pengucilan tersebut.”
Putri Sanggramawijaya manggut-manggut mendengar cerita Romo. “Lalu, apakah setelah kejadian itu, si kakek melakukan kesalahan lagi?”
“Tidak ada. Setelah peristiwa itu, dia hidup sendirian dari hasil sawah sisa peninggalan orang tuanya dulu. Itu pun tidak ada yang mau menerima hasil panennya. Akhirnya karena kasian, aku memutuskan untuk membeli hasil panennya tersebut secara diam-diam.”, begitu tutur Romo kepada Tuan Putri.
Wajah Putri Sanggramawijaya sekejap berubah merah. Nampak kegusaran dan kemarahan yang bercampur menjadi satu. Ia berdiri, lalu duduk lagi dengan gelisah. Romo dan Si Mbok hanya memandang heran dengan tingkah lakunya tersebut.
Hari-hari berikutnya, Tuan Putri lalui seperti biasanya dengan belajar dan membaca di Balai Kitab. Namun, akhir-akhir ini ia selalu pulang lebih lambat dari biasanya. Ia habiskan beberapa waktu setelah waktu belajarnya usai dengan duduk dan melamun di pinggir teras Balai Kitab. Kadang ia mencatat suatu hal lalu disimpan, kadang pula catatan itu dibuang. Tak jarang ia hanya duduk tanpa melakukan apapun.
“Mbok, Hari Minggu besok temani aku ke pasar ya.”, pinta Tuan Putri dengan mata berbinar-binar. Si Mbok terlihat heran bercampur curiga. Namun, itu lebih baik daripada melihat junjungannya bermuram durja.
Tibalah mereka berdua di pasar besar keesokan harinya. Tuan Putri berdiri di tengah pasar, kemudian memukul-mukul Bonang Penerus untuk menarik perhatian semua orang. Benar saja, tidak lama kemudian, seluruh masyarakat yang ada di pasar berkerumun memperhatikan Tuan Putri.
“Wahai masyarakat Desa Kalasan, seperti yang telah kalian ketahui, aku adalah Putri Mahkota Kerajaan Airlangga. Perkataanku, sama dengan perkataan ayahku. Dan permintaanku, sama dengan perintah ayahku, Raja kalian. Dengan ini, aku meminta kakek tua untuk menjadi ketua acara Larung Sesaji atau acara persembahan kepada Sang Hyang Suci yang akan dilaksanakan minggu depan.”
Seluruh masyarakat berkasak-kusuk tentang permintaan Putri Sanggramawijaya Tunggadewi. Sejatinya mereka ingin menolak, akan tetapi itu adalah sebuah perintah. Warga desa tidak sudi jika harus berjalan di bawah kakek tua mantan Kepala Desanya itu. Namun, karena hal ini merupakan perintah Sang Putri Mahkota, mau tidak mau mereka harus menurutinya.
Kakek tua pun sebenarnya merasa kaget dan bingung dengan keinginan Tuan Putri. Ia takut dicerca dan dihina apabila bertemu warga desa. Apalagi, pada upacara Larung Sesaji ini diperlukan segenggang hasil panen dari tiap-tiap rumah. Dan di rumah ketua upacaralah sesaji itu diantar oleh tiap perwakilan keluarga.
(artikelpatria.blogspot)
Tepat seminggu telah berlalu. Semua orang berkumpul di Balai Penataran. Mereka bersiap-siap mengikuti Upacara Larung Sesaji sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Hyang Suci atas hasil panen yang mereka dapatkan.
Tuan Putri pun telah bersiap disana sejak pagi buta. Kali ini ia bertugas membuka acara. Sebelum membuka acara, Tuan Putri memanggil salah seorang warga yang pengaruhnya sangat kuat dalam mengucilkan kakek tua.
“Wahai Paman, cobalah lihat jumlah sesaji yang terkumpul. Apakah menurutmu ada yang kurang jumlahnya?”
Laki-laki yang dipanggil Paman itu bingung. Apa maksud pertanyaan Tuan Putri padanya. Kegugupannya membuat ia menjawab dengan terbata-bata. “Ampun Ndoro, tidak ada yang kurang suatu apapun. Begitupun dengan jumlahnya.”
“Lalu, apakah menurutmu kakek tua dapat dipercaya?”, tanya Tuan Putri lagi.
“Menurut hemat saya, melihat kejujurannya sebagai ketua upacara Larung Sesaji, kakek tua bisa dipercaya.”, Paman menjawab dengan ragu-ragu, tapi lebih lancar dari sebelumnya.
“Jawaban yang bagus. Sekarang, apakah pantas kakek tua itu dikucilkan? Ia telah berjuang demi kalian selama tiga tahun sebagai Kepala Desa. Dia hanya melakukan kesalahan kecil sekali, dan tidak pernah mengulangi ataupun berbuat buruk setelah itu. Seharusnya kalian tidak hanya melihat satu noda hitam yang terdapat dalam selembar kertas putih. Namun, lihatlah juga bagian putihnya yang lebih luas dan besar. Bukankah manusia wajar pernah berbuat salah dan dosa? Kalian saja yang dulu terlalu naif menganggapnya sebagai teladan makhluk suci tanpa dosa. Nyatanya, dia juga manusia biasa seperti kalian. Bisa salah, dan bisa kembali menjadi baik.” Nafas Tuan Putri naik-turun mengikuti gelora emosi di dadanya.
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari arah belakang. Ternyata Romo Ronggohadinegoro berdiri sejak awal menyaksikan semua kejadian itu.
“Sungguh sebuah tindakan dan pidato yang sangat anggun nan bijak, Tuan Putri. Selamat, kau telah bebas dari penjara kedua. Penjara yang diciptakan oleh masyarakat. Tidak semua pendapat kerumunan itu benar, bisa jadi itu keliru. Dan kau telah berhasil melewati batasnya.”

Ikut terharu. Nunggu plot twistnya ah. Hehe . ..
BalasHapus