Katamu, Dadamu Sesak

Katamu, Dadamu Sesak


Bau karbol yang menyengat dari bekas lantai yang dibersihkan, kadang masih membuatku pusing.

Ruangan warna putih dengan tirai hijau muda itu pun kadang masih terayun-ayun ketika aku menatap langit-langit kamar tidur.

Padahal sudah 12 purnama berlalu sejak peristiwa itu.


Malam itu, adalah kali keduaku menghabiskan malam dalam sebuah tempat bernama rumah sakit.

Sekitar dua tahun lalu, akulah yang terbaring di sana, memperjuangkan nyawaku dan nyawanya.

Sedang di lorong itu, kau berdoa sembari menunggui seorang malaikat kecil lahir ke dunia.


Malam ini semua serba terbalik.

Kau nampak terbaring lesu di atas ranjang dengan air muka yang teramat pasi; memperjuangkan nyawamu demi dua nyawa yang menggantungkan hidup padamu.


"Dadaku sesak", begitu katamu malam itu.

Aku yang hanya tinggal setengah nyawa, berusaha mencerna kalimatmu dengan hati-hati. 

Menyesali kenapa takdir menipu dan membuatmu semenderita begini. 

Dua kali tes negatif tak mengubah kenyataan bahwa saat ini kau terbaring di sana dengan vonis positif.


Masih tergambar jelas bagaimana malam lalu kau santap lahap semangkuk bubur merah kesukaan kita.

Masih teringat jelas bagaimana demam, batuk, dan pilek itu adalah tipes atau malaria menurut dokter terbaik di sana.


Ah, lagi-lagi kepalaku terasa berat.

Nampaknya air mata yang mengalir kali ini sama banyaknya dengan yang lalu.

Ku raih air segelas, untuk mengganti yang amblas.

Katamu dulu, aku harus banyak minum air agar tak dehidrasi.

Agar kulitku tak seperti tanah kuburan yang kering dan kelam.

Agar bibirku ini tetap mampu tersenyum, tanpa takut pecah dan berdarah.


Blitar, 4 Oktober 2021

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Computer Vision Syndrome: Sindrom yang Semakin Marak di Era Digital

Sepuluh Kata Paling Banyak Muncul dalam Al-Qur'an

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 7-Tamat)