Makan Seimbang, Tubuh Ideal

“Gizi yang baik bukan hanya tentang memiliki cukup makanan untuk dimakan tetapi juga mendapatkan makanan yang tepat untuk dimakan,” kata Perwakilan UNICEF Debora Comini pada Hari Peringatan Obesitas Dunia tanggal 4 Maret 2021 silam.

Sepenggal pernyataan Ibu Debora tadi, sedikit banyak terasa menyesakkan di dada saya. Bagaimana tidak, semakin kesini, pengetahuan dan pengaplikasian pola makanan sehat semakin menurun di kalangan masyarakat; baik masyarakat kota maupun desa, juga masyarakat kaya ataupun miskin.

Hal ini terbukti dari hasil survei yang dilakukan Indonesian Family Life Survey (RAND Corporation) menyebutkan bahwa jumlah orang dewasa dengan berat badan berlebih di Indonesia telah berlipat ganda selama dua dekade terakhir dari 19,1 persen pada 2007 meningkat hingga 35,4 persen pada 2018.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 1 dari 3 orang dewasa Indonesia mengalami obesitas. Obesitas anak juga meningkat, dengan 1 dari 5 anak usia sekolah dasar dan 1 dari 7 remaja di Indonesia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, menurut Survei Riset Kesehatan Dasar Nasional (RISKESDAS) tahun 2018. Jika terus dibiarkan, penelitian memprediksi angka obesitas dapat mencapai 40 persen pada 2030. Ngeri, bukan? Artinya pada tahun tersebut, 1 dari 2 orang akan mengalami kelebihan berat badan.

Berikut ini beberapa faktor penyebab angka obesitas yang semakin meningkat menurut ahli gizi Mochammad Rizal, antara lain:
  • Ketidakseimbangan antara kalori atau energi yang masuk dari makanan dengan aktivitas yang dilakukan. Artinya, kalori yang masuk begitu banyak sedangkan aktivitas yang dilakukan lebih sedikit sehingga membuat berat badan meningkat. Kondisi ini dapat semakin parah karena pandemi Covid-19 yang membuat banyak orang beraktivitas dari rumah.
  • Faktor ekonomi membuat masyarakat lebih mudah mendapatkan makanan. Terutama makanan olahan seperti jajanan kemasan maupun kekinian yang mengandung banyak lemak dan gula.
  • Terakhir, masih minimnya aktivitas fisik seperti jalan kaki dan olahraga karena kurang tersedianya trotoar dan taman yang nyaman. Selain itu juga masyarakat banyak menggunakan kendaraan untuk beraktivitas.
Kalau boleh saya tarik, ada 2 faktor utama penyebab obesitas yaitu makanan dan olahraga/aktivitas fisik. Kali ini, mari berfokus pada tema makanan.

Merupakan sebuah kemajuan mendengar masyarakat semakin mudah mendapatkan makanan yang cukup. Namun, apakah kriteria cukup secara kuantitas sudah tepat? Bukankah cukup secara kualitas juga wajib dipenuhi?

Sebenarnya sejak tahun 2017, Kemenkes telah menghapuskan program 4 Sehat 5 Sempurna karena dinilai tidak lagi relevan, terutama dalam program ini tidak disebutkan proporsi yang tepat. Kemenkes lalu menggantinya dengan program Isi Piringku yang dinilai mampu menggambarkan makanan sehat yang ideal.

Isi Piringku merupakan anjuran untuk makan sesuai dengan porsi aturan sebagai berikut:
Bagi piring menjadi 2, kemudian
  • 1/2 porsi piring makan terdiri dari sayur dan buah-buahan yang beragam jenis dan warna, 1/3 dari 1/2 porsinya di isi dengan buah-buahan dan 2/3 dari 1/2 porsinya di isi sayuran.
  • 1/3 dari 1/2 piring makan diisi dengan protein (ikan,ayam,daging,kacang-kacangan dan lainnya), 2/3 dari 1/2 piring makan diisi dengan karbohidrat/makanan pokok (biji-bijian utuh, nasi, gandum, jagung dan lainnya).
Isi piringku: 1/6 buah, 2/6 sayur, 1/6 lauk, 2/6 karbohidrat.

Panduan Isi Piringku dapat diterapkan hampir pada semua kalangan, akan tetapi tidak untuk anak-anak dibawah usia 2 tahun, ibu hamil, atlit olahraga dan pada orang dengan kondisi medis khusus dikarenakan kebutuhan asupan nutrisi yang berbeda.

Dalam Islam sendiri, menjaga kesehatan merupakan wujud rasa syukur kita kepada Allah yang telah memberikan karunia kenikmatan tubuh yang sehat sehingga wajib kita jaga dan rawat. Salah satu caranya adalah dengan memakan makanan yang halal dan baik atau bergizi. Selain itu, jumlahnya cukup dan tidak berlebihan. Seperti dalam kutipan ayat berikut:

".......makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 31)

Fenomena makan yang tidak seimbang ini pernah dituliskan oleh Saputra dalam puisinya yang menceritakan Sayur Besan yang menjadi hikayat. Diceritakan dan dikenang, akan tetapi sudah tidak lagi dimakan. Ketidakseimbangan karena kurang mengonsumsi sayur itu pun terlihat dari badan yang membengkak berkali lipat (obesitas).

aku menyaksikan manusia tumbuh membesar
membengkak berkali lipat dalam sekejap
aku hanya sayur besan mengingat yang ingat
di kampungku, tanah Betawi, aku menjadi hikayat orang-orang mengulang-ulang menyebut keberadaanku dengan ocehan yang dilambung-lambungkan kadangkala diracik penuh misteri spektakuler menjadi seperti angin sepoi kadang puting beliung sehingga hidup tenteram atau penuh bom waktu rumah menjadi surga atau runtuhan amukan molotov

aku hanya kumpulan terubuk, kentang, bihun, ebi agar berkecamuk sensasi dengan sadar kulibatkan petai aku berkuah santan dipercantik kunyit sehingga kuning selayaknya warna emas mencorong menyihir imajinasi menjadilah keagungmuliaan tuhan disematkan di dadaku karena tuhan menjelma dalam sinar kuning emas (kamu harus ingat simbol bintang kuning menyala)

landasan utama akidah kulhuwallahu ahad
aku diyakini menjaga rantai hidup semesta
alam mikro kosmos makro kosmos ditata langgeng selalu melahirkan jiwa baru yang seimbang

harus kamu ingat aku hanya sayur besan mempertemukan jutaan karakter manusia merajut cinta dan mendirikan rumah tangga selebihnya biar mereka menentukan akhirnya aku hanya mengingatnya tanpa mencatatnya

Saputra (dalam Hidayatullah, 2020: 151)

So, sudah seimbangkah makananmu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Computer Vision Syndrome: Sindrom yang Semakin Marak di Era Digital

Sepuluh Kata Paling Banyak Muncul dalam Al-Qur'an

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 7-Tamat)