Siapakah Aku?

Who am I? Siapakah aku?

Apakah aku adalah mata yang melihat, telinga yang mendengar, tangan yang menyentuh dan merasakan, ataukah hidung yang mencium?

Apakah aku seperti sebuah puisi karya Kahlil Gibran yang berjudul Mata berikut ini?

Kata Mata suatu hari, “Aku melihat di luar lembah ada gunung yang tertutup oleh kabut biru. Apakah itu tidak indah?”

Telinga mendengarkan, dan setelah mendengarkan dengan takzim beberapa waktu, ia berkata, “Tetapi di mana ada gunung, aku tidak mendengarnya.”

Lalu Tangan berbicara dan berkata, “Aku mencoba untuk merasakan dan menyentuhnya, dan aku tidak dapat menemukan gunung.”

Dan hidung berkata, “Tidak ada gunung, aku tidak dapat mencium baunya.”

Lalu mata berbalik ke arah lain, dan mereka mulai membicarakan ilusi Mata. Dan mereka berkata, “Pasti ada masalah dengan Si Mata.”

Aku bukanlah mata, hidung, tangan, ataupun telinga seperti yang digambarkan puisi Kahlil Gibran tersebut. Mereka tidak terpisah, tetapi bersatu mendukungku. Bersama dengan 62,4% air, 16,4% protein, 5,9% mineral, dan 15,3% lemak; berserikat membentuk "Aku".

Lalu, apa bedanya aku dengan kamu, dengan dia, dengan orang lain? Bukankah kita sama-sama sekumpulan atom oksigen, hidrogen, karbon, nitrogen, kalsium dan fosfor?

Agar kalian mudah mengenaliku, aku sering menulis tentang tema kesehatan yang kadang ku campur dengan unsur sastra seperti puisi. Hal itu karena aku menyukai puisi. Oh ya satu lagi, kadang pula ku cantumkan kutipan pandangan Islam tentang tulisan yang ku buat. Maklum, selain kesehatan jasmani, kita juga perlu memperhatikan kesehatan rohani. Dan bagiku, kesehatan rohani bisa dipelihara lewat mendalami agama.

Nah, kira-kira sudah unik belum aku ini? Seorang penulis amatir bertema kesehatan jasmani rohani yang menyukai puisi dan agama. Kalau kata orang, keunikan yang membuat kalian mudah mengenali seseorang itu disebut dengan personal branding.

Selain pentingnya personal branding sebagai suatu ciri khas seorang penulis, memiliki personal branding dapat membuat para pembaca mudah mencari rujukan artikel terkait suatu topik tertentu sesuai dengan niche yang dimiliki seorang penulis.

Merupakan sebuah keuntungan apabila kita menjadi top of mind para pembaca. Ibarat dari deretan para penulis bertema kesehatan, karena keunikan yang kita miliki, bisa jadi pembaca cenderung lebih memilih mencari tulisan yang kita buat dibandingkan tulisan lain. Hal ini sedikit banyak pasti akan mempengaruhi traffic dan jumlah kunjungan pada blog atau tulisan. Dan kabar baiknya, semakin banyak jumlah kunjungan suatu tulisan, maka pendapatan dari AdSense pun akan semakin tinggi. Cuan, bukan? 

Penulis yang berhasil mendapatkan uang dari tulisannya, seringkali disebut dengan writerpreneur. Tidak hanya menulis di blog pribadi, seorang writerpreneur dapat menghasilkan pundi-pundi uang dari menjual tulisannya ke penerbit, media massa, maupun perusahaan yang memerlukan jasa kepenulisannya. Asyik, bukan?

Eits, tapi ingat, jalan yang harus dilalui tidak semudah yang dibayangkan, Fergusso. Agar jumlah kunjungan pada tulisan kita meningkat, serta tulisan kita dikenal oleh perusahaan yang mungkin memerlukan kemampuan kita; tentu diperlukan sebuah upaya. Salah satunya adalah optimasi media sosial.

Well, di jaman yang serba digital seperti ini, siapa sih yang tidak punya akun sosial media? Mungkin ada, tapi tentu jauh lebih mayoritas orang memiliki akun sosial media daripada yang tidak punya. Melalui akun sosial media, informasi bertukar dan menyebar sangat cepat. Orang yang terkenal dan memiliki pengikut yang banyak di suatu sosial media, dapat dikatakan sebagai seorang selebritis.

Apa dampak menjadi seleb? Salah satu dampak yang akan dirasakan adalah orang-orang akan mengenal dan mengikuti segala macam aktivitas si seleb. Ditambah lagi, ia punya kekuatan untuk mempengaruhi orang agar mengikuti apa yang ia tunjukkan di sosial medianya.

Misalkan saja kita bukan seleb, tapi paling tidak kita punya teman yang banyak dari teman-teman dan kenalan yang kita miliki dari mulai SD-SMP-SMA-Kuliah-Kerja. Seorang penulis yang punya seribu teman di sosial medianya, tentu memiliki peluang lebih besar untuk mempromosikan tulisannya agar dibaca orang lain dibandingkan dengan penulis yang tidak punya sosial media maupun penulis yang tidak pernah mempromosikan tulisannya di sosial media.

Beberapa trik untuk memaksimalkan promosi tulisan kita lewat sosial media:

  • Buat konten pembuka yang eye catching. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat tulisan yang provokatif maupun kontradiktif.
  • Buat desain yang menarik dengan menambahkan gambar dan ilustrasi.
  • Sertakan link dengan judul yang bisa membuat orang penasaran untuk membacanya.
  • Promosikan lewat status maupun postingan feed. Bisa pula meminta bantuan teman agar mempromosikan di sosial medianya juga.
Sekian tulisanku yang sok bijak ini. Sejujurnya, langkahku masih jauh dari kata separo berjuang. Jati diri yang masih kadang kabur, dan segenap mula-mula yang sering malu-malu; masih lebih sering mewarnai langkahku. Yah, bagaimanapun juga, bukankah lebih baik merangkak daripada berhenti dan menyerah duluan. Terkhusus aku dan kamu yang masih belajar, jangan berhenti ya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Computer Vision Syndrome: Sindrom yang Semakin Marak di Era Digital

Sepuluh Kata Paling Banyak Muncul dalam Al-Qur'an

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 7-Tamat)