Cerbung: Candrasengkala (Bag. 1)
Pukul 10 malam. Sebuah ketukan di pintu kamar. Terdengar suara laki-laki dari arah luar. Wanita berambut lurus sepinggang di dalam ruangan itu panik. Bagaimana tidak, tempat ini sudah sepi dan tidak mungkin ada kunjungan di jam segini.
Lama, wanita itu hanya duduk di pinggiran tempat tidur sampai ia melihat layar ponselnya menyala; sebuah pesan baru saja masuk.
Dari dia. Seorang teman asing yang tiba-tiba menjadi sangat perhatian akhir-akhir ini. Seorang laki-laki yang hanya pernah ia lihat sekilas berada di sekitar tempat tinggalnya saat ini. Laki-laki yang berhasil menghubungi nomornya dari group Whatshapp warga residen.
“Ku taruh beberapa buku bacaan dan apel di depan pintumu. Ku harap itu bisa mengurangi sepimu di situ. Kalau kau mau beberapa film, bilang saja, dan aku akan membawakannya.”
Wanita berlesung pipit bermata legam itu tersenyum, lalu sekejap kemudian dahinya mengerut mencoba menerka-nerka maksud baik laki-laki yang terlihat lebih muda darinya itu.
Sebuah buku dengan sampul coklat tua berjudul Candrasengkala terlihat paling menarik perhatiannya. Buku itu terlihat tua, tapi masih sangat terawat. Terbukti dari warna kertasnya yang telah berubah menjadi coklat usang dengan Aksara Jawa yang menghiasi sampul belakang. Uniknya, buku tersebut dililit oleh seutas tali dengan ujung kait berbentuk kepala naga.
Putri Sanggramawijaya, begitu nama wanita yang telah dua minggu menyendiri dalam ruangan berukuran enam kali lima meter di salah satu penginapan dekat Gunung Kelud, Jawa Timur.
Pelan dibukanya kait kepala naga buku Candrasengkala dengan hati-hati. Halaman pertama kosong tanpa kata, hanya berisi gambar dua patung raksasa yang membawa Palu Gada di atas pundaknya. Kedua arca ini merupakan arca yang mengapit pintu gerbang tempat suci sehingga dikenal pula sebagai penjaga pintu. Masyarakat setempat menyebut Arca Dwarapala ini sebagai Reco Pentung.
Pada halaman kedua tertulis sebuah paragraf dengan bahasa yang tidak ia kenali. Bahasa Sansekerta mungkin. Di bawah tulisan itu, terdapat sebuah gambar 3 gunungan yang berbeda ukuran.
”tandhan krtajayayåhya /
ri bhuktiniran tan pariksirna nikang sang hyang catur lurah hinaruhåra nika”.
“sdangnira Çri Maharaja sanityangkên pratidina i sira paduka bhatara palah”
(1119)
Tak lama setelah ia terbata-bata membaca tulisan tersebut, layar ponselnya kembali menyala. Sebuah pesan masuk dari Aksa, laki-laki yang tadi memberinya beberapa buku.
“Sudah tidur? Apa kamu melihat buku bersampul coklat berjudul Candrasengkala? Aku pikir buku itu terjatuh saat aku meletakkan buku-buku yang ku pinjamkan padamu. Jika ada, tolong simpankan dulu. Besok pagi ku ambil. Dan satu hal yang penting, jangan pernah coba-coba untuk membukanya. –Aksa.”
Putri Sanggramawijaya kemudian menutup buku yang sudah terlanjur dipegang dan dibacanya itu. Ia lilit kembali kait kepala naga ke tempat semula, tapi anehnya gagal. Tali itu seperti menyusut dan berubah menjadi lebih pendek daripada terakhir kali ia membukanya, sehingga kait kepala naga tidak bisa menutup dengan sempurna. Akhirnya dibiarkan saja buku itu sedikit terbuka, lalu ia simpan dalam laci samping tempat tidurnya.
“Besok kalau dia datang mengambil, ku bilang saja kalau buku itu terjatuh dan terbuka dengan sendirinya. Daripada sekarang ku tutup paksa dan malah rusak.” Begitu simpulannya sembari mematikan lampu kamar.
Angin sepoi-sepoi menyibak rambutnya yang halus nan legam. Wangi bunga Kenanga semerbak menusuk penciuman. Gadis itu akhirnya terbangun. Wajahnya pucat keheranan menyaksikan pemandangan yang tak pernah ia saksikan sebelumnya. Sebuah taman yang dipenuhi aneka bunga warna-warni terhampar luas di hadapannya. Belum hilang kekagumannya atas penampakan baru di depannya, sebuah suara wanita tua terdengar memanggil namanya sambil tergesa-gesa.
“Ndoro, Ndoro Sanggramawijaya Tunggadewi. Ndoro sudah ditunggu Paduka Raja Airlangga di Pendopo Utama sekarang.”
---------------------------bersambung-------------------------------
Episode 2: Candrasengkala (Bag. 2)

Ceritanya bagus!
BalasHapusWow, ceritanya unik banget kak, penuh budaya di dalamnya, suka banget :D semangat lanjut kak :D
BalasHapus