Cerbung: Candrasengkala (Bag. 2)

 

Putri Sanggramawijaya mencoba memahami kejadian yang menimpa dirinya saat ini. Mungkinkah ini mimpi? Ah, ia merasa hal ini terlalu nyata untuk menjadi sebuah mimpi. Namun, apabila ini adalah kenyataan, bagaimana mungkin dia bisa tersesat ke dalam dunia yang tidak pernah ia temui sebelumnya?

Pikirannya terus berkecamuk, sementara tak terasa langkahnya telah sampai ke sebuah ruangan yang disebut Pendopo Utama. Ruangan ini berbentuk persegi empat seluas pendopo balai desa dengan berbagai pernak-pernik ukiran kayu menghiasi sekelilingnya. Terlihat dua buah patung raksasa mirip seperti gambar dalam buku Candrasengkala, tapi dengan ukuran yang terlihat jauh lebih besar, sedang berdiri tegak di depan pintu ruangan tersebut. Ukiran Burung Rajawali menghiasi pintu sebelah kanan, sedangkan ukiran berbentuk Naga menghiasi pintu sebelah kiri.


 “Anakku Tunggadewi, kamu tidak lupa kan dengan posisimu sebagai Putri Mahkota?”, tanya pria paruh baya yang duduk di atas singgasana berwarna kuning keemasan. 

Wanita itu menggeleng tanpa ragu-ragu. Raja tersenyum mendengar jawaban Sang Putri Mahkota. Namun, sialnya Sang Putri keliru memberikan respon jawaban. Gelengan kepala yang ia maksud tadi artinya adalah “aku tidak mengerti”, dan bukan jawaban dari pertanyaan Raja tentang posisinya sebagai Putri Mahkota yang berarti “tidak lupa". 

Sedang pikirannya berkeliaran entah kesana-kemari mengingat-ingat bagaimana mungkin ia terjebak di tempat asing, Raja memberitahukan sebuah kabar yang cukup mengejutkan dan membahayakan posisinya saat ini.
 
 “Kemarin lusa, datang dua orang pemuda dari sebuah wilayah tidak jauh dari kerajaan Airlangga. Namanya Singalodra dan Jakalodra. Mereka adalah penguasa hutan Lodaya dan salah satunya berniat meminangmu sebagai istri. Aku tau kamu akan menolak mereka seperti sebelum-sebelumnya. Akan tetapi, kali ini cobalah pikirkan masak-masak. Kali ini aku pun tidak bisa sembarangan menolak permintaan mereka karena ayahnya merupakan seorang Senopati yang selalu membantu kerajaan kita dari pemberontak dan Belanda”, tutur Raja pada Sanggramawijaya Tunggadewi yang semakin bingung dengan situasi di depannya.

Beberapa menit lalu ia masih ada di dalam ruangan bercat putih yang baru ia tempati sekitar dua minggu belakangan, lalu keadaan tiba-tiba berubah tak terkendali seperti ini. Kepalanya mendadak terasa pening, matanya berkunang-kunang, kemudian kakinya gemetar yang menyebabkan tubuhnya ambruk memeluk tanah. 

Matanya terbuka dan kesadarannya mulai kembali saat ia dengar seseorang mengetuk pintu. 

“Mbak Putri, sudah bangun? Mbak Putri ngga apa-apa? Ini ada orang yang nyari mbak.” Suara Mbak Nimas, anak pemilik penginapan dekat Gunung Kelud yang selama ini ia tinggali, terdengar sedikit cemas sambil memanggil-manggil namanya.

Pelan-pelan ia bangun hendak menyaut panggilan Nimas. Matanya sambil melirik sedikit ke tempat terakhir kali ia meletakkan buku bersampul coklat semalam. Laci itu masih rapi dan tertutup seperti terakhir kali ia ingat. “Oh, hanya mimpi ternyata”, ucapnya sambil berjalan mendekati pintu.

“Maaf Mbak Nimas, sepertinya aku terlalu nyenyak tidur. Ada apa ya?”, tanya Putri sembari menyipitkan mata; silau terkena sinar matahari pagi dari balik jendela yang tiranya ia buka.

“Tadi Mas Aksa nungguin Mbak Putri sejak pagi loh. Katanya mau ngajak olahraga, jalan-jalan pagi ke puncak Kelud. Terus karena Mbak Putri belum bangun, nanti Mas Aksa kesini lagi sehabis pulang dari puncak.”, terang Nimas padanya.

Aksa, lelaki berambut lurus berkulit sawo matang dengan kedua bola mata jernih menghiasi parasnya. Bisa dibilang ia cukup tampan untuk ukuran lelaki yang tiap hari bekerja di bawah terik sawah dan perkebunan. Kendati demikian, Putri sama sekali tak memiliki niat untuk menjadikan Aksa sebagai teman dekat; mengingat statusnya yang hanya sebagai pengunjung tempat ini. Juga, karena ia tak mungkin menemui lelaki itu dengan wajah yang hancur karena sebuah penyakit menular bernama Varicella Zoster.

“Put? Ini aku, Aksa. Kamu sudah bangun? Aku mau ambil buku Candrasengkala.” Suara Aksa membuyarkan lamunan Putri. Ia kemudian bergegas mengambil buku Candrasengkala dari dalam laci lemari untuk dikembalikan kepada Aksa.

Putri Sanggramawijaya terdiam. Ia bingung mendapati buku itu telah tertutup dan  terlilit sempurna kembali oleh kait kepala naga.

----------------bersambung---------------------

Episode 1: Candrasengkala (Bag. 1) 

 

 

 

 

Referensi: Gambar dari inilahblitar.com

Komentar

  1. Aku sampai googling nama penyakitnya. Ah ini si kakak penulisnya keren abis. Penuh isi di ceritanya, lanjut up lagi ya kak, aku penasaran euy :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Computer Vision Syndrome: Sindrom yang Semakin Marak di Era Digital

Sepuluh Kata Paling Banyak Muncul dalam Al-Qur'an

Cerbung: Candrasengkala (Bag. 7-Tamat)